Minggu, 23 Oktober 2011

PERMASALAHAN BK





PERMASALAHAN BK

PAPER
Disusun guna memenuhi tugas individu
Mata kuliah  Survey Permasalahan BK
Dosen Pengampu Dra. Maria Theresia Sri Hartati
Prof. Dr. DYP. Sugiharto, M.Pd




oleh
Mugi Lestari
1301409019


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2011



PERMASALAHAN BK

A.    Hakekat Permasalahan BK
Pada hakekatnya masalah secara umum  menunjuk pada adanya kesenjangan antara keadaan sekaran (pencapaian) dengan tujuan. Dalam penelitian mengacu pada fokus yang dipandang belum selesai dalam tataran teoritik dan praktik atau lebih seringnya dikatakan bahwa adanya kesenjanan antara teori dan praktik (kenyataan) dan memerlukan penyelesaisan (Sugiharto & Mulawarman, 2007: 8).
Hakekat masalah jika dikaitkan dengan konseling menurut Mappiare dalam Sugiharto & Mulawarman (2007: 8) masalah adalah kesenjangan antara kondisi sekarang individu dengan apa yang diharapkan individu atau lingkungannya dan di dalamnya terdapat hambatan untuk mencapai tujuan.
Masalah adalah hasil dari kesadaran bahwa kondisi yg sekarang terjadi belumlah sempurna dan keyakinan bahwa masa depan bisa dibuat jadi lebih baik (Purwanto, 2010).
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa permasalahan BK merupakan kesenjangan antara kondisi dalam tataran teoritik BK dengan praktik BK di lapangan yang memerlukan adanya penyelesaian.

B.     Isu-Isu yang Timbul di Lapangan
Adapun isu-isu atau problematika BK di lapangan , yaitu:
1.      Menurut Setyafi dkk (2008) yaitu permasalahan BK di sekolah dalam tinjauan teori strukturasi
Struktur dapat berupa nilai, ide atau gagasan yang dimiliki oleh individu. Permasalahan yang paling tampak dalam sistem BK di sekolah adalah perbedaan nilai antara kepala sekolah dan konselor dalam mengartikan fungsi dan peran konselor di sekolah. Saat ini masih banyak kepala sekolah yang belum mengetahui dan memahami fungsi dan peran konselor sebagaimana mestinya. Sebagian diantara mereka mengira bahwa tugas konselor berkenaan dengan mengatasi semua siswa yang bermasalah termasuk sebagai petugas tata tertib, sehingga kepala sekolah menugaskan konselor sebagai petugas tata tertib, termasuk memberikan hukuman atau sanksi kepada siswa yang melanggar tata tertib. Nilai yang menganggap bahwa konselor adalah petugas tata tertib dan menangani siswa yang bermasalah tersebut tentu saja berbeda dengan nilai yang dimiliki konselor. Dimana tugas dan fungsi konselor sebenarnya adalah fasilitator yang membantu siswa untuk berkembang secara optimal dan membantu siswa mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas-tugas perkembangannya, konselor bukanlah petugas tata tertib yang menghukum siswa. Perbedaan nilai inilah yang menghambat konselor berperan sesuai dengan fungsi dan tugas yang sebenarnya di sekolah. Bahkan konselor diberikan tugas yang berlawanan dengan fungsi dan peran yang sebenarnya.
a.       Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
Latar belakang: Ada dua pendapat yang berbeda kaitannya dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling.
·         Bahwa bimbingan dan konseling sama saja dengan pendidikan. Jadi dengan sendirinya sudah termasuk ke dalam usaha sekolah yang menyelenggararakan pendidikan. Sekolah tidak perlu bersusah payah menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara mantap dan mandiri. Pendapat ini cenderung mengutamakan pengajaran dan mengabaikan aspek-aspek lain dari pendidikan dan sama sekali tidak melihat pentingnya bimbingan dan konseling.
·         Bimbingan dan konseling harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga ahli dengan perlengkapan yang benar-benar memenuhi syarat. Pelayanan ini harus secara nyata dibedakan dari praktek pendidikan sehari-hari.
b.      Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
Latar belakang: masih banyak anggapan bahwa peranan konselor di sekolah adalah sebagai polisi sekolah yang harus menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah. Anggapan ini mengatakan ”barangsiapa diantara siswa-siswa melanggar peraturan dan disiplin sekolah harus berurusan dengan konselor”.
c.       Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat
Latar belakang: pelayanan bimbingan dan konseling menyangkut seluruh kepentingan klien dalam rangka pengembangan pribadi klien secara optimal. Disamping memerlukan pemberian nasehat, pada umumnya klien sesuai dengan problem yang dialaminya, memerlukan pula pelayanan lain seperti pembrian informasi, penempatan dan penyaluran, konseling, bimbingan belajar, pengalih tangan kepada petugas yang lebih ahli dan berwenang, layanan kepada orang tua siswa dan masayarakat, dan sebagainya.
d.      Bimbingan dan konseling di anggap hanya melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal”
Latar belakang: ada asumsi bahwa bimbingan konseling hanya melayani orang-orang normal yang mengalami masalah tertentu.
e.       Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-kliean tertentu saja.
Latar belakang:yang melatarbelakangi problema tersebut adalah bahwa biasanya yang datang di ruang BK adalah anak-anak yang diapnggil kerena bermasalah.
f.       Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
Latar belakang:pandangan guru-guru mata pelajaran yang kurang paham pada prinsip BK Perkembangan bahwa guru BK dan guru mata pelajaran merupakan fungsionaris bersama dalam membantu siswa menyelesaikan masalahnya.
g.      Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
Latar belakang: latar belakang problema tersebut karena para konselor di sekolah dalam prakteknya lebih memberikan nasehat-nasehat kepada siswanya karena konselor kurang memahami potensi yang dimiliki siswa.
h.      Bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja
Latar belakang: pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dengan melihat gejala-gejala dan atau keluhan awal yang disampaikan oleh klien. Namun demikian, jika pembahasan masalah itu dilanjutkan, didalami, dan dikembangkan, seringkali ternyata bahwa masalah yang sebenarnya lebih jauh, lebih luas dan lebih pelik apa yang sekedar tampak atau disampaikan itu. Bahkan kadang– kadang masalah yang sebenarnya, sama sekali lain daripada yang tampak atau dikemukakan itu.
3.      Problematika BK di sekolah terkait dengan sekolah-sekolah tidak memiliki paradigma yang tunggal terhadap BK dalam http://dc340.4shared.com/doc/PlMjCDLp/preview.html. Berikut pembagian sekolah terkait dengan permasalahan BK:
a.       sekolah yang sadar akan kedudukan BK dalam pembentukan pribadi siswa, tetapi tidak didukung oleh materi, tenaga dan yayasan (swasta) atau pemerintah (negeri). Keberadaan BK di sekolah ini antara ada dan tiada, hidup segan mati tak mau. Di sekolah kategori ini semua konsep ke BK-an hanya tinggal dalam angan-angan. Untuk membangun manajemen BK di sekolah ini butuh tenaga ekstra.
b.      Sekolah yang masih menerapkan manajemen BK jadul. Guru BK masih dianggap sebagai polisi sekolah, hanya menangani orang yang bermasalah. Sekolah ini cenderung tidak terbuka terhadap perkembangan ilmu BK dan tidak melihat fungsi BK dalam pembentukan pribadi siswa. Guru BK masih ditempatkan sebagai pelengkap dalam proses pendidikan anak, bukan sebagai rekan tenaga pengajar. Bahkan ironisnya, yang menjadi guru BK bukan lulusan Bimbingan dan Konseling. Sekolah ini anti perubahan.
c.       Sekolah yang belum memiliki manajemen BK. Penyembanya, bisa karena belum ada tenaga, atau tidak ada yang tahu sehingga tidak ada yang memulau, atau bisa juga karena masalah financial, atau menganggap tidak perlu. Biasanya sekolah kategori ini terdapat di kecamatan atau sekolah anak tidak mampu.
4.      Problematika yang berikut ini menurut pengakuan dari Galih (Mahasiswa BK angkatan 2008) yang sedang PPL di sekolah Taruna Nusantara, bahwa terjadi kesalahpahaman terhadap layanan-layanan BK, seperti:
a.       Layanan konseling individu yang di anggap sebagai layanan konsultasi
b.      Layanan bimbingan kelompok yang di anggap sebagai forum.





DAFTAR PUSTAKA

Sugiharto, DYP & Mulawarman. 2007. Psikologi Konseling. FIP. UNNES

Purwanto, Herli. 2010. Pengertian Masalah, Ciri-Ciri Masalah dan Masalah yang dapat di angkat dalam Studi Kasus. Paper Universitas Negeri Semarang.


http://dc340.4shared.com/doc/PlMjCDLp/preview.html. Diunduh tanggal 26 September 2011.

MAUT

kita tak pernah tau kapan kita mati...ntah besok, hari ini, sekarang, atau bahkan mungkin saat ini malaikat pencabut nyawa sedang disamping anda. Seperti yang terjadi pada sore ini impian Marco Simoncelli yang ingin terus melanjutkan perfoma yang menggembirakan setelah finis di posisi kedua GP Australia, Minggu (16/10/11) dan memasang target untuk selalu naik podium pada dua seri terakhir MotoGP 2011 ini, termasuk di Sepang, Malaysia pada Minggu (23/10/11) pupus karena kecelakaan maut yang dialaminya.
Marco Simoncelli tak mampu melawan cedera parah yang menimpanya, akibat kecelakaan di Sirkuit Sepang, Malaysia, Minggu (23/10/11). "Supersic" akhirnya mengembuskan nafas terakhir pada pukul 16.56 waktu setempat atau 15.56 WIB, meskipun sempat mendapat perawatan di medical centre sirkuit.
Kecelakaan mengerikan itu terjadi pada lap kedua di Tikungan 11. Simoncelli, yang sedang bertarung dengan Alvaro Bautista dalam perebutan posisi keempat, tak mampu mengendalikan motornya ketika menikung ke kanan, sehingga tergelincir.
Saat jatuh itu, dia dan motornya melintasi sirkuit dan masuk ke jalur milik pebalap Yamaha Tech 3, Colin Edwards, dan pebalap Ducati, Valentino Rossi. Kecelakaan horor itu pun tak terhindarkan, karena motor Edwards melindas Simoncelli, tepatnya di kepala.

Edwards pun jatuh di luar trek dengan cedera dislokasi bahu, dan Rossi masih mampu mengendalikan motornya meskipun terpental ke luar lintasan dan Desmosedici GP11.1 tunggangannya mengalami kerusakan. Akan tetapi, Simoncelli menggelepar di atas trek dengan helm sudah terlepas dari kepala (setelah dilindas), dan dia sama sekali tidak bergerak.
Bendera merah langsung dikibarkan usai kecelakaan tragis tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, panitia lomba mengumumkan bahwa balapan GP Malaysia itu resmi dibatalkan, karena tim medis fokus untuk menyelamatkan Simoncelli. 


Selasa, 04 Oktober 2011

Tahap-Tahap Modeling


TAHAP-TAHAP MODELING
1.      Atensi
Atensi adalah tahap untuk mulai memberi perhatian pada model. Konselor pada tahap ini meminta/mendorong konseli untuk mulai memerhatikan perilaku model. Sebelum memulai tahap ini konselor harus memastikan kesiapan konseli agar nantinya pada saat model menampilkan perilaku, konseli dapat berkonsentrasi secara penuh terhadap model.
2.      Retensi
Retensi merupakan tahap mulai mengimitasi model. Konseli pada tahap ini mulai mengimitasi perilaku yang ditampilkan oleh model. Namun dengan catatan bahwa perilaku yang dimodeling haruslah spesifik, dan sesuai dengan tujuan konseling.
3.      Reproduksi
Reproduksi merupakan tahap dimana konseli menunjukkan tingkah laku seperti tingkah laku model.
4.      Motivasi
Pada tahap motivasi, merupakan proses pemberian dukungan/ reinforcement. Pemberian dukungan/reinforcement ini diberikan oleh konselor ketika konseli menunjukkan perilaku yang dikehendaki. Pemberian dukungan/reinforcement diharapkan agar konseli memiliki kecenderungan untuk mengulang kembali perilaku yang dikehendaki tersebut secara kontinyu dan lebih baik lagi.
5.      Vicarious Learning
Vicarious learning merupakan belajar dengan cara mengobservasi konsekuen tingkah laku orang lain. Pada tahap ini konseli akan melihat dan mengetahui konsekuen perilaku yang ditunjukkan oleh model. Dengan pemahaman yang dilakukan oleh konseli bahwa perilaku hasil dari memodeling mendapat reinforcement  maka konseli akan memutuskan untuk  melanjutkan atau tidak.

mekannisme pertahanan ego (ego-defense mechanism)


MEKANISME PERTAHANAN EGO (EGO DEFENSE MECHANISM)

A.    Pengertian
Mekanisme pertahanan (defense mechanism) menurut Clark, 1991 (dalam Komalasari, dkk; 2011: 71) mendefinisikan sebagai gangguan ketidaksadaran dari realitas yang bertujuan untuk mengurangi efek yang menyakitkan dan konflik melalui respon yang otomatis dan sudah menjadi kebiasaan.
Mekanisme pertahanan merupakan cara seseorang untuk bertahan dengan cara menciutkan dorongan-dorongan atau dengan meciutkan dorongan-dorongan (kecemasan) menjadi wujud yang lebih dapat diterima konsepsi dan tidak terlalu mengancam (dalam http://indonesiaindonesia.com/f/76497-mekanisme-pertahanan-ego-psikoanalisa-sigmund-freud/).  Mekanisme pertahanan ego adalah strategi psikologis yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri.
Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa mekanisme pertahanan ego merupakan strategi psikologis (ego) yang bersifat spesifik dan tidak disadari untuk menghindari ancaman yang dapat menimbulkan kecemasan.
Sifat yang dimiliki oleh mekanisme yaitu:
1.      Bersifat spesifik
2.      Tidak disadari
3.      Usaha untuk beradaptaasi yang digunakan untuk menyelesaikan konflik dan memberikan kelegaan (relief) terhadap kecemasan
Menurut Komalasari (2011: 71) mekanisme pertahanan ego memiliki dua karakteristik, yaitu:
1.      Menyangkal realitas
2.      Mengganti realitas

B.     Proses Munculnya Mekanisme Pertahanan Ego
Energi Id akan meningkat ketika ada rangsangan (impuls) sehingga menimbulkan ketegangan atau pengalaman yang tidak enak dan menguasai Ego agar bertindak secara kongkrit dalam memenuhi rangsangan tersebut sesegera mungkin. Di sisi lain Super ego berusaha untuk menetang dan menguasai Ego agar tidak memenuhi Hasrat dari Id karena tidak sesuai dengan konsepsi Ideal. Dorongan Id yang primitif tersebut bersifat laten pada alam bawah sadar sehingga tidak akan mengendor selama tidak memiliki objek pemuas. Pada taraf-taraf tertentu dorongan ini bisa menjadi distruktif dengan penyimpangan-penyimpangan perilaku.
Ego berdiri di tengah-tengah kekuatan dahsyat kebutuhan biologis dan norma. Ketika terjadi konflik di antara kekuatan-kekuatan ini, ego merasa terjepit dan terancam, serta merasa seolah-olah akan lenyap dan tidak berdaya digilas kedua kekuatan tersebut. Perasaan terjepit dan terancam ini disebut kecemasan (anxiety), sebagai tanda bagi ego bahwa sedang berada dalam bahaya dan berusaha tetap bertahan.

C.    Bentuk-Bentuk
Menurut Corey (2009: 64) bentuk-bentuk mekanisme pertahanan di antaranya sebagai berikut:
1.      Repression (represi)
Threatening or painful thoughts and feelings are excluded from awareness (Ancaman atau pemikiran menyakitkan dan perasaan disisihkan dari kesadaran). Dengan kata lain melupakan isi kesadaran yang traumatis  atau sesuatu (baik itu ide,  insting, ingatan, pikiran) yang bisa membangkitkan kecemasan. Represi mendorong segala sesuatu yang dapat membangkitkan kecemasan dari alam kesadaran ke alam ketidaksadaran.
Represi merupakan landasan utama/dasar dari semua mekanisme pertahanan ego. Alasannya bahwa peristiwa-peristiwa menyakitkan yang terjadi di 5/6 tahun pertama kehidupan seseorang akan dikubur (dibawa ke alam ketidaksadaran), dan peristiwa ini akan mempengaruhi tingkah laku individu kelak.
Contoh: Orang yang gagal menikah mungkin akan menekan ingatan-ingatan yang menyakitkan tentang pengalaman mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan.
2.      Denial (penyangkalan)
“Closing one’s eyes” to the existence of a threatening aspect of reality (seseorang menutup mata karena adanya aspek kenyataan yang mengancam). Dengan kata lain, penyangkalan merupakan pertahanan melawan kecemasan dengan “menutup mata” terhadap keberadaan kenyataan yang mengancam/yang dapat menyebabkan kecemasan. Penyangkalan dapat dikatakan mekanisme pertahanan yang paling sederhana dibandingkan dengan mekanisme pertahanan yang lain. Penyangkalan  mirip dengan represi, namun biasanya denial beroperasi pada tingkat ambang sadar dan tingkat kesadaran.
Contoh: kecemasan atas kematian orang yang sangat dicintai, seringnya diwujudkan dengan penyangkalan terhadap fakta kematian orang tersebut, misalnya dengan menggali kembali kuburannya untuk memastikan kembali.
3.      Reaction formation (formasi reaksi)
Actively expressing the opposite impulse when confronted with a threatening impulse (dengan aktif menyatakan bertentangan dengan dorongan ketika dihadapkan dengan suatu dorongan yang mengancam). Dapat pula dikatakan pengembangan sikap, karakter atau sikap sadar yang sangat berbeda dengan perasaan yang sebenarnya yang telah ditekan (ditekan oleh ketentuan-ketentuan superego). Hal ini dilakukan sebagai cara untuk mengganti impuls yang mengakibatkan kecemasa (anxiety-producing impulses) dan melanggar ketentuan superego dengan kesadaran dengan hal yang bertentangan. Misalnya: mengganti rasa benci dengan cinta, rasa bermusuhan dengan ekpresi persahabatan, dan lain sebagainya.
Contoh: seorang kakak membenci adiknya karena adiknya adalah penyebab perceraian orang tuanya, tetapi superego tidak membenarkan, maka reaksinya adalah menyanyangi adiknya secara berlebihan (over protective) dengan membatasi pergaulannya sehingga membuat adiknya terkekang.
4.      Projection (proyeksi)
Mekanisme mengubah kecemasan neurotic atau moral menjadi kecemasan realistis, dengan cara melemparkan impuls-impuls internal yang mengancam dipindahkan ke obyek di luar, sehingga seolah-olah ancaman itu terproyeksi dari obyek eksternal kepada diri orang itu sendiri. Pengubahan ini mudah dilakukan karena sumber asli kecemasan neurotic atau moral itu adalah ketakutan terhadap hukuman dari luar.
Contoh: Jojo sudah tidak menyanyangi pacarnya, maka Jojo mengatakan bahwa pacarya sudah tidak menyanyanginya lagi.
5.      Displacement (penempatan yang keliru)
Directing energy toward another object or person when the original object or person is inaccessible (mengarahkan energy menuju obyek/orang laun ketika obyek asli/orang tidak dapat dicapai). Cara ini dilakukan untuk menghadapi kecemasan dengan memindahkan pada obyek “yang lebih aman”. Ketika obyek kateksis asli yang dipilih oleh insting tidak dapat dicapai karena adanya rintangan dari luar (sosial, alami) atau dari dalam (antikateksis). Insting itu ditekan kembali ke ketidaksadaran atau ego menawarkan kateksis baru yang berarti pemindahan energy dari suatu obyek ke obyek lain, sampai ditemukan obyek yang dapat mereduksi ketegangannya.
Contoh: Jono jengkel karena dimarahi ibunya, tapi Jono tidak bisa melampiaskan kejengkelannya pada ibunya, lalu Jono melampiaskan kejengkelannya kepada adiknya dengan cara membentak-bentak pada adiknya.
6.      Rationalization (rasionalisasi)
Rasionalisasi merupakan cara untuk memberi alasan-alasan yang masuk akal sebagai usaha untuk mempertahankan egonya (agar tidak terluka) sehingga seolah-olah dapat dibenarkan. Contoh: Suzy tidak dapat menyelesaikan menjawab soal ujian, ia mencari-cari alasan seperti waktunya kurang, soalnya terlalu banyak, soalnya sulit-sulit.
7.      Sublimmtion (sublimasi)
Dorongan yang tidak dibenarkan superego tetap dilakukan dalam bentuk-bentuk  tingkah laku yang kreatif sesuai tuntutan masyarakat. Sublimasi merupakan kompromi yang menghasilkan prestasi budaya yang lebih tinggi dan diterima oleh masyarakat. Contoh: Chris John memilih untuk mengikuti olahraga bertinju sebagai sublimasi dorongan agresi.
8.      Regression (regresi)
Regresi adalah usaha untuk menghindari kegagalan atau ancaman terhadap ego, individu melangkah mundur ke fase perkembangan yang lebih awal yang tuntutan-tuntutannya tidak terlalu besar. Contoh: Seorang anak yang takut sekolah memperlihatkan tingkah laku infantile seperti menangis, menghisap ibu jari, bersembunyi, dan menggantungkan diri pada guru.
9.      Introjection
Taking in and “swallowing” the values and standards of others (menerima dan menelan/meniru nilai dan standar lainnya). Introyeksi adalah suatu bentuk pertahanan diri yang dilakukan dengan mengambil alih nilai-nilai dan standar orang lain baik positif maupun negative. Contoh: anak yang mendapat penganiayaan semasa kecilnya, mengambil cara seperti orang tuanya guna mengatasi stress sehingga melestarikan siklus kekerasan.
10.  Identification
Identifikasi merupakan cara mereduksi ketegangan dengan meniru (melakukan imitasi) atau mengidentifikasi diei dengan orang yang dianggap berhasil memuaskan hasratnya dibanding dirinya. Individu mungkin melakukan imitasi beberapa maupun seluruh karakteristik dari model. Indentifikasi merupakan proses pemindahan energy psikis dari Id dan merupakan mekanisme pertahanan sejalan dengan konsep pemindahan energy psikis tersebut.
Contoh: Anggi meniru gaya busana yang sedang ngetrend sebagai proses introyeksi untuk meningkatkan harga diri dan menekan perasaan rendah diri, sehingga Anggi merasa lebih percaya diri
11.  Compensation
Yaitu usaha untuk menutupi kelemahan di satu bidang dengan membuat prestasi di bidang lain, sehingga Ego terhindar dari ejekan atau rasa rendah diri. Contoh: Joshua tidak pandai dalam pelajaran, namun dia menekuni bidang olahraga basket dan memperoleh prestasi, sehingga Joshua memdapatkan kepuasan karena orang kagum pada kepandaiannya dalam bermain basket.


DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2009. Theories and Techniques of Counseling. 8th Edition. USA: Thomson Brooks/Cole.

Komalasari, Gantina, dkk. 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks


http://id.wikipedia.org/wiki/Mekanisme_pertahanan_ego. Diunduh tanggal 30 September 2011

Sabtu, 16 Juli 2011

Melatih Konsentrasi

A. Pengertian Konsentrasi adalah pemusatan pemikiran kepada suatu objek tertentu (http://www.hprory.com/pengertian-konsentrasi/). Semua kegiatan kita membutuhkan konsentrasi. Dengan konsentrasi kita dapat mengerjakan pekerjaan lebih cepat dan dengan hasil yang lebih baik. Karena kurang konsentrasi hasil pekerjaan biasanya tidak dapat maksimal dan diselesaikan dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu konsentrasi sangat penting dan perlu dilatih. Pikiran kita tidak boleh dibiarkan melayang-layang karena dapat menyebabkan gangguan konsentrasi. B. Penyebab Gangguan Konsentrasi Gangguan konsentrasi ada dua bentuk yaiytu: 1. Gangguan dari dalam Gangguan ini disebabkan karenapenguasaan diri yang kurang baik. Contoh penyebab gangguan konsentrasi yang berasal dari dalam diri yaitu kondisi fisik, minat, motivasi, 2. Gangguan dari luar Gangguan dari luar mempunyai arti gangguan yang berasal dari lingkungan sekitar individu, misalnya: •Orang yang sengaja membuat konsentrasi buyar •Suasana disekitar tempat belajar •Barang-barang yang dapat menganggu konsentrasi belajar seperti TV, Internet, HP C.Cara Mencegah Timbulnya Gangguan Konsentrasi Cara yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya gangguan konsentrasi, di antaranya sebagai berikut: 1.Batasi keberadaan barang-barang elektronik yang tidak bermanfaat, misalnya TV, internet, HP, laptop, dan barang-barang lainnya yang dapat memancing gangguan konsentrasi 2.Membuat suasana nyaman agar mudah fokus dan berkonsentrasi 3.Belajar memperhatikan/melihat materi secara detail 4.Menciptakan ketenangan di sekitar tempat belajar agar mudah berkonsentrasi 5.Mengatur jadwal belajar yang tidak terlalu lama sehingga tetap dapat fokus selama belajar, misalnya belajar 40-50 menit dan kemudian istirahat. D.Melatih Konsentrasi Pada dasarnya melatih konsentrasi adalah dilakukan dengan MEMPERHATIKAN (secara seksama). Kemungkinan besar sebagaian besar orang sulit berkonsentrasi dan mengalami gangguan konsentrasi disebabkan karena terbiasa tidak pernah memperhatikan segala sesuatunya dengan seksama Latihan dasar untuk melatih berkonsentrasi misalnya: a.Ambil benda apapun di sekitar kita. (sambil anda membaca buku misalnya mengambil penggaris untuk menggaris bawahi catatan penting) b.Perhatikan benda tersebut beberapa saat (maksimal dua menit) c.Setelah 2 (dua) menit berlalu, maka segera letakkan lagi benda tersebut ke tempat asalnya d.Setelah anda letakkan (tentunya tidak ada acara intip mengintip lagi), lakukanlah kegiatan yang lain (misalnya melanjutkan membaca buku). Lakukanlah selama 2 menit. e.Setelah semuanya sudah, coba jawab pertanyaan di bawah ini: 1.Apa warna dasar benda tersebut? 2.Apa merek benda tersebut? 3.Apa motif/gambar pada benda tersebut? 4.Warna lain yang menempel di benda itu?, dll Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sekarang cocokkan jawaban dengan kembali melihat benda tersebut. Coba hitung dengan jujur kesalahan dari jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan. Jika ada pertanyaan yang tidak terjawab dengan lengkap, maka hal itu membuktikan bahwa anda belum benar-benar memperhatikan dengan baik. Jika anda sudah mampu menjawab semua pertanyaan di atas dengan baik, maka kami ucapkan selamat. Karena artinya anda cukup memiliki pengamatan yang baik. Inti dari melatih konsentrasi adalah melatih perhatian. Semakin sering memperhatikan sesuatu secara mendetil/seksama, maka semakin baik tinggi tingkat konsentrasinya.

Jumat, 10 Juni 2011

Format Penilaian Observasi

Buat mahasiswa BK n pengunjung setia...banyak mahasiswa yang masih bingung dan kurang persiapan sebelum praktik memberi layanan...nah ini ada format penilaian yang aku dapat dari perkuliahan...meskipun sepele tapi semoga saja bisa bermanfaat FORMAT PENILAIAN LAYANAN KLASIKAL Nama :……………………………………. NIM :…………………….. Jenis Layanan:……………………………………. Rombel :…………………….. No Komponen yang dinilai Rentangan Nilai 56-60 CD 61-65 C 66-70 BC 71-80 B 81-85 AB 86-100 A INDIKATOR/ASPEK YANG DIAMATI I. PRA PEMBELAJARAN 1. Kesiapan ruang, alat dan media layanan 2. Memeriksa kesiapan peserta didik/klien Rata-rata I II. MEMBUKA LAYANAN 1. Melakukan pembinaan hubungan baik dengan peserta didik/klien 2. Melaksanakan penstrukturan (menyampaikan pengertian, tujuan, cara pelaksanaan, peran konselor dan klien) Rata-rata II III. KEGIATAN INTI LAYANAN A Penguasaan Materi Layanan 1. Menunjukkan penguasaan utuh terhadap layanan 2. Menerapkan asas-asas dalam pelaksanaan layanan 3. Menunjukkan etika dasar pelayanan konseling 4. Menunjukkan jelas arah pengubahan tingkah laku peserta didik/klien Rata-rata A B Pendekatan dan Strategi Layanan 1. Melaksanakan layanan sesuai dengan kompetensi tujuan yang akan dicapai 2. Melaksanakan layanan secara runtut 3. Menguasai ketrampilan konselor 4. Melaksanakan layanan yang bersifat kontekstual dan kekinian 5. Melaksanakan layanan yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif (nurturant effect) 6. Melaksanakan layanan sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan Rata-rata B C Pemanfaatan Sumber Belajar/Media Layanan 1. Menunjukkan ketrampilan dalam penggunaan sumber belajar/media layanan 2. Menghasilkan layanan yang menarik 3. Melibatkan siswa dalam pembuatan pemanfaatan sumber belajar/media layanan Rata-rata C D. Layanan yang Memicu dan Memelihara Keterlibatan Siswa 1. Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik/klien untuk mengikuti layanan 2. Merespon secara tepat dan positif partisipasi peserta didik/ klien 3. Menunjukkan sikap terbuka terhadap respon peserta didik 4. Menunjukkan hubungan antar pribadi yang kondusif dan hangat 5. Menumbuhkan keceriaan dan antusiasme siswa dalam mengikuti layanan Rata-rata D E. Penilaian Proses dan Hasil Layanan 1. Melakukan penilaian proses 2. Melakukan penilaian segera yang berfokus pada UCA Rata-rata E F. Penggunaan Bahasa 1. Menggunakan bahasa lisan secara jelas dan lancar 2. Menggunakan bahasa yang kontekstual 3. Menyampaikan pesan dengan gaya yang sesuai Rata-rata F Rata-rata III IV PENUTUP 1. Melakukan refleksi 2. Melaksanakan tindak lanjut dan rencana kegiata layanan berikutnya Rata-rata IV Rata-rata Keseluruhan Semarang,………………………………… Penilai, (……………………………………………) NIM. Keterangan Kolom rentangan nilai diisi skor mentah (angka) Rata-rata nilai: Rata-rata (I+II+III+IV)/4

Minggu, 05 Juni 2011

"HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KARIR DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA SISWA KELAS III MESIN OTOMOTIF DAN MESIN PERKAKAS SMK NEGERI 2 CILACAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011"

"HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KARIR DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA SISWA KELAS III MESIN OTOMOTIF DAN MESIN PERKAKAS SMK NEGERI 2 CILACAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011" PROPOSAL MINI SKRIPSI Disusun guna memenuhi tugas individu Mata kuliah metodologi penelitian Dosen Pengampu Maria Theresia Sri Hartati oleh Mugi Lestari 1301409019 JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2010 JUDUL “HUBUNGAN ANTARA BIMBINGAN KARIR DENGAN MINAT BERWIRAUSAHA PADA SISWA KELAS III MESIN OTOMOTIF DAN MESIN PERKAKAS SMK NEGERI 2 CILACAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011” LATAR BELAKANG MASALAH Di dunia usaha, banyak sekali orang yang sukses hidupnya menjadi pengusaha atau interpreneur. Banyak dari pengusaha yang sukses karena mempunyai daya kreativitas dan keinovativan. Melalui proses kreatif dan inovatif wirausaha dapat menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang diciptakan. Nilai tambah barang dan jasa dapat diciptakan melalui proses kreatif dan inovatif, banyak menciptakan, banyak keunggulan termasuk keunggulan bersaing dengan lawan bisnisnya. Wirausaha merupakan seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola, mengendalikan semua usahanya. Dengan berwirausaha kita tidak akan bergantung pada orang lain. Selain itu pun jika kita sukses akan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Pengetahuan dan ketrampilan yang didapat dari sekolah dapat mendorong minat berwirausaha. Minat berwirausaha berarti seseorang memiliki suatu rasa dorongan/ketertarikan pada wirausaha dan memperoleh rasa kepuasan untuk menjalaninya. Minat berwirausaha akan menjadikan seseorang untuk lebih giat mencari dan memanfaatkan peluang usaha dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Minat tidak dibawa sejak lahir tetapi tumbuh dan berkembang sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Pada dasarnya pendidikan merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi. Dalam rangka membangun manusia Indonesia yang seutuhnya pembangunan di bidang pendidikan merupakan sarana dan wahana yang sangat baik untuk pembinaan sumber daya manusia. Bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari proses pendidikan dan memilki konstribusi terhadap keberhasilan proses pendidikan di sekolah. Secara umum tujuan bimbingan dan konseling adalah agar manusia atau individu mampu memahami potensi-potensi insaniahnya, dimensi kemanusiaannya termasuk memahami berbagai persoalan hidup dan mencapai alternative pemecahannya. Apabila pemahaman akan potensi insaniah dapat diwujudkan dengan baik, maka individu akan tercegah dari hal-hal yang dapat merugikan orang lain. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling ada empat bidang pelayanan yang harus diberikan kepada siswa yaitu bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Bimbingan karir pada hakekatnya merupakan salah satu upaya pendidikan melalui pendekatan pribadi dalam membantu individu untuk mencapai kompetisi yang diperlukan dalam menghadapi masalah-masalah karir. Permasalahan dalam karir itu meliputi pemilihan karir, pemahaman potensi yang ada dalam individu. Bimbingan karir tidak hanya berguna dalam permasalahan individu melainkan dapat memberikan kepada individu suatu informasi-informasi yang ada dalam dunia usaha maupun dunia kerja. Informasi-informasi tersebut yang nantinya akan diigunakan oleh individu dalam membantu pencapaian karir yang diinginkan. Bimbingan karir sebagai suatu proses membantu pribadi untuk mengembangkan penerimaan kesatuan dan gambaran diri serta peranannya dalam dunia kerja. Menurut batasan ini, ada dua hal penting, pertama proses membantu individu untuk memahami dan menerima diri sendiri, dan kedua memahami dan menyesuaikan diri dalam dunia kerja. Di dalam arus globalisasi yang memiliki diferensiasi sosial yang semakin kompleks, khususnya siswa SMK akan dihadapkan pada berbagai macam kemungkinan pilihan hidup yang penting, seperti pilihan untuk melanjutkan studi, pilihan tentang dunia kerja, pilihan tentang pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat, pilihan untuk berkarya/berwirausaha dan semua ini menuntut kemandirian dalam menjatuhkan pilihannya. Bagi siswa yang tidak dapat memahami potensi yang dimiliki, di duga mereka juga tidak akan dapat menentukan berbagai macam pilihan karir, akhirnya akan mengalami masalah. Meskipun banyak pula yang bekerja, namun status mereka hanya karyawan kontrak yang dalam satu atau dua tahun akan diberhentikan oleh perusahaan dan digantikan oleh siswa lulusan yang baru. Hanya dari beberapa mereka yang diangkat menjadi karyawan tetap. Oleh karena itu akibat habisnya kontrak kerja para alumnus banyak yang menganggur lagi dan untuk mencari pekerjaan lagi tidaklah mudah. Salah satu cara solusi permasalahan tersebut yaitu dengan cara menumbuhkan minat pada siswa untuk berwirausaha sejak dini sebelum lulus agar tidak bergantung kepada seseorang ataupun suatu perusahaan. Dengan adanya minat berwirausaha pada siswa setelah lulus mereka dapat memperoleh pandangan dalam berwirausaha dan membuka usaha dengan modal pengetahuan, ketrampilan, dan modal uang yang mereka miliki. Bahkan jika ada dari mereka yang tidak memiliki modal mereka dapat bekerja terlebih dahulu. Apabila ada alumnus yang telah selesai kontrak kerjanya, ia mampu mendirikan usaha bagi dirinya sendiri dari uang yang diperolehnya selama bekerja sehingga mereka tidak perlu lagi bingung untuk mencari pekerjaan lagi. Salah satu usaha yang dapat didirikan siswa yaitu bengkel sepeda motor/mobil, bengkel service perkakas rumah tangga, dll. Dari fenomena yang terjadi, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara bimbingan karir dengan minat berwirausaha pada siswa kelas III Mesin Otomotif dan Mesin Perkakas SMK Negeri 2 Cilacap tahun pelajaran 2010/2011. RUMUSAN MASALAH Seberapa tinggi minat berwirausaha pada siswa? Apakah ada hubungan/pengaruh antara bimbingan karir dengan minat berwirausaha pada siswa? MANFAAT PENELITIAN Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Manfaat Praktis Bagi sekolah yang bersangkutan, agar dipakai sebagai umpan balik (feed back) atas pelaksanaan bimbingan karier saat ini dan dapat lebih tertarik untuk memanfaatkan bimbingan karier yang diberikan secara optimal. Bagi sekolah yang belum melaksanakan, akan tertarik untuk menyelenggarakan bimbingan karier tersebut. Manfaat Teoritis Bagi peneliti dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian-penelitian selanjutnya. LANDASAN TEORI Minat Wirausaha Minat Pengertian Minat Segala perbuatan manusia timbul karena dorongan dari dalam dan rangsang dari luar, tetapi tidak akan terjadi sesuatu jika tidak berminat. Secara umum minat adalah kecenderungan terhadap sesuatu (Noeng Muhadjir, 1992: 72). Minat adalah seperangkat mental yang terdiri dari suatu campuran perasaan, harapan, pendirian, prasangka rasa takut atau kecenderungan-kecenderungan lain yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu (Andi Mapiere, 1982: 60). Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan, minat adalah suatu dorongan yang mengarahkan individu kepada suatu pilihan tertentu dan mewujudkannya dengan berpartisipasi terhadap kegiatan yang yang menjadi obyek kesukaannya. Aspek-Aspek Minat Minat terdiri dari beberapa aspek di antaranya: Attention (perhatian) Interest (ketertarikan) Desire (keinginan) Conviction (keyakinan) Decition (keputusan) Kecenderungan. Kriteria Minat Minat seseorang dapat digolongkan menjadi: Rendah Sedang Tinggi Beberapa kondisi yang mempengaruhi minat Status ekonomi Pendidikan Tempat tinggal Cara menimbulkan minat Minat dapat ditimbulkan dengan cara: Membangkitkan suatu kebutuhan. Menghubungkan dengan pengalaman yang lampau. Memberikan kesempatan untuk mendapat hasil yang lebih baik. Wirausaha Pengertian Wirausaha ditinjau dari etimologisnya berasal dari kata “wira” yang berarti teladan/patut dicontoh, “usaha” berarti berkemauan keras memperoleh manfaat. Wirausaha adalah sifat yang dimiliki oleh seseorang yang berkemauan keras untuk melakukan kegiatan bermanfaat untuk memperoleh penghasialn (berbisnis), yang patut menjadi tauladan hidup (Tarmudji, 1996: 4). Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata interpreneur (kewirausahaan). Wirausaha mempunyai arti seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang sudah ada dan menemukan cara baru dalam rangka memberikan kepuasan pada konsumen. (Suryana, 2000:8) Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kewirausahaan merupakan suatu kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan kiat dasar untuk menciptakan suatu inovasi terbaru dari suatu barang atau jasa dengan konsekuensi yang harus dihadapi Karakteristik Kewirausahaan Menurut Scarborough dan Zimmerer (dalam Suryana, 2000: 8). Mengemukakan karakteristik-karakteristik wirausaha, yaitu: Desire for responsibility Preference for moderate risk Confidence in their ability to success Desire for immediate feed back High level of energy Future orientation Skill at Organizing Value of achievement over money Sedangkan menurut Arthur Kuriloff dan John M. Mempil (dalam Suryana, 2000: 9). Mengemukakan bahwa karakteristik kewirausahaan meliputi komitmen, resiko yang moderat, peluang, obyektif, umpan balik, optimisme, uang, proaktif dalam manajemen. Dalam beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa karakteristik wirausaha yaitu: memiliki komitmen dan tanggung jawab terhadap usahanya, berani menanggung resiko, percaya diri dan selalu optimis, mampu melihat peluang usaha yang berorientasi ke masa depan, mempunyai ketrampilan, kreatif, dan inovatif, semangat kerja yang , selalu memperhitungkan untung rugi Sifat-Sifat Kewirausahaan Sifat-sifat yang perlu dimiliki wirausaha adalah sebagai berikut: percaya diri, berorientasi pada tugas dan hasil, pengambilan resiko, kepemimpinan, keorisinilan, berorientasi ke depan, kreativitas Keterampilan Wirausaha Menjadi manusia wirausaha diperlukan beberapa keterampilan, antara lain: Keterampilan berpikir Kreatif Keterampilan dalam Pembuatan Keputusan Keterampilan dalam Kepemimpinan Keterampilan Manajerial Keterampilan dalam bergaul antar manusia (Human relations) Fungsi Wirausaha Menurut Suryana (2000: 50) dilihat dari ruang lingkupnya wirausaha memiliki dua fungsi, yaitu fungsi makro dan fungsi mikro. Secara makro, wirausaha berperan sebagai penggerak pengendali dan pemacu perekonomian suatu bangsa. Sedangkan secara mikro, peran wirausaha adalah penanggung resiko dan ketidakpastian, mengombinasikan sumber-sumber ke dalam cara yang baru dan berbeda untuk menciptakan nilai tambah dan usaha-usaha baru. Dalam melakukan fungsi mikronya, menurut Marzuki Usman (dalam Suryana, 2000: 51), secara umum wirausaha memiliki dua peran, yaitu: Sebagai penemu (innovator) Sebagai perencana (planner) Minat Berwirausaha Pengertian Berwirausaha adalah berkemauan dan berkemampuan melihat kesempatan-kesempatan usaha untuk mengambil keuntungan dari padanya dengan mengambil tindakan yang tepat. Menurut Yanto (1996: 23-24) minat wirausaha adalah kemampuan untuk memberanikan diri dalam memenuhi kebutuhan hidup serta memecahkan permasalahan hidup, memajukan usaha atau menciptakan usaha baru dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri. Dari pengertian di atas maka yang dimaksud dengan minat berwirausaha adalah keinginan, ketertarikan serta kesediaan untuk menciptakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berani menanggung resiko. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Minat Berwirausaha Menurut Kartini Kartono (1980:78) faktor lingkungan yang mempengaruhi minat meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat. Secara umum yang mempengaruhi minat secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi faktor intrinsic(faktor-faktor intrinsic sebagai pendorong minat berwirausaha antara lain karena adanya kebutuhan akan pendapatan, harga diri, dan perasaan senang.) dan faktor ekstrinsik (faktor-faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat berwirausaha antara lain: Lingkungan Keluarga, Lingkungan Masyarakat, Peluang, Pendidikan). Pengukuran Minat Berwirausaha Menurut Super dan Crites, dalam Dewa Ketut Sukardi (1988: 109) bahwa seseorang yang mempunyai minat pada obyek tertentu dapat diketahui dari: Pengungkapan/Ucapan (expressed interest) Tindakan/Perbuatan (manifest interest) Menjawab Sejumlah Pertanyaan (inventoried interest) Bimbingan Karir Pengertian Menurut Mugiarso (2009: 4) bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Sedangkan menurut Miller dalam Roosdi Achmad Syuhada (1998:15) Bimbingan didefinisikan sebagai suatu proses pemberian bantuan kepada individu-individu dalam mencapai pemahaman dan pengarahan diri (Guidance is the proces of helping individualis achieve the self understanding and self and direction).. Karir diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan dan kedudukan yang mengarah pada dunia kerja (Dewa Ketut Sukardi, 1987:18). Sedangkan karir merupakan pekerjaan atau profesi (Walgito, 2004: 2). Bimbingan karir merupakan usaha untuk mengetahui dan memahami diri, memahami apa yang ada dalam diri sendiri dengan baik, dan di pihak lain untuk mengetahui dengan baik pekerjaan apa saja yang ada, persyaratan apa yang dituntut dalam pekerjaan itu (Walgito, 2004). Dewa Ketut Sukardi (1987:22), mendefinisikan Bimbingan Karier adalah bantuan layanan yang diberikan kepada individu-individu untuk memilih, menyiapkan, menyesuaikan dan menetapkan dirinya dalam pekerjaan yang sesuai serta memperoleh kebahagiaan daripadanya. Dari berbagai pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan karir merupakan suatu proses bantuan yang diberikan pada individu melalui berbagai cara dan bentuk layanan dalam upaya membantu pemahaman diri agar mampu merencanakan karirnya dengan mantap sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan, pengetahuan dan kepribadian serta faktor-faktor yang mendukung kemajuan dirinya dihubungkan dengan persyaratan karir yang akan ditekuninya. Layanan-Layanan Bimbingan Karier di SMK Layanan Informasi terhadap Lingkungan Karier. Bimbingan karier sebagai jembatan bagi siswa dalam memperoleh informasi tersebut, menjadi berperan penting, karena bimbingan karier menyediakan informasi tentang: karakteristik dunia kerja/usaha, jenjang pendidikan yang lebih tinggi, lembaga penunjang keterampilan siswa. Konsultasi dalam Merencanakan Karier Bimbingan karier memberikan sarana, layanan dan bantuan kepada siswa dalam mempertimbangkan alternatif dan mengambil keputusan karier yang tepat dengan kondisi diri dan lingkungan yang akan dihadapi siswa nantinya agar harapan yang diinginkan dapat tercapai sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. Layanan dalam Menentukan Alternatif Pilihan Karier. Layanan dalam Memilih Penempatan Karier Layanan Ketepatan Memilih Karier Prinsip-prinsip Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMK. Secara umum prinsip-prinsip bimbingan karier di SMK, adalah sebagai berikut: Seluruh siswa hendaknya mendapat kesempatan yang sama untuk mengembangkan dirinya dalam pencapaian kariernya secara tepat sesuai dengan kemampuannya. Setiap siswa hendaknya memahami bahwa karier itu adalah sebagai suatu jalan hidup, dan pendidikan adalah sebagai persiapan dalam hidup. Siswa hendaknya dibantu dalam mengembangkan pemahaman yang cukup memadahi terhadap diri sendiri dan kaitannya dengan perkembangan sosial pribadi dan perencanaan pendidikan karier. Siswa secara keseluruhan hendaknya dibantu untuk memperoleh pemahaman tentang hubungan antara pendidikannya dan kariernya. Setiap siswa hendaknya memilih kesempatan untuk menguji konsep, berbagai peranan dan ketrampilannya guna mengembangkan nilai-nilai dan norma-norma yang memiliki aplikasi bagi karier di masa depannya. Program Bimbingan Karier di sekolah hendaknya diintegrasikan secara fungsional dengan program bimbingan dan konseling pada khususnya. Fungsi dan Tujuan Bimbingan Karier di SMK Fungsi Bimbingan Karier di SMK Tujuan Pelaksanaan Bimbingan Karier di SMK Secara umum tujuan diselenggarakannya Bimbingan Karier di SMK menurut Dewa Ketut Sukardi (1987:31-34) ialah membantu siswa dalam pemahaman dirinya dan lingkungannya, dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengarahan kegiatan-kegiatan yang menuju kepada karier dan cara hidup yang akan memberikan rasa kepuasan karena sesuai, serasi, dan seimbang dengan dirinya dan lingkungannya. Sedangkan tujuan khusus yang menjadi sasaran Bimbingan Karier di SMK, diantaranya: siswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang dirinya sendiri (self concept) siswa dapat meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja/usaha/industri. siswa dapat mengembangkan sikap dan nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan peluang pasar serta dalam persiapan memasukinya, hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut. siswa dapat meningkatkan ketrampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tentang bidang usaha yang sesuai dengan dirinya dan sesuai dengan pasar. siswa dapat menguasai ketrampilan dasar yang penting dalam pekerjaan Pentingnya Bimbingan Karier di SMK Pentingnya bimbingan karier di SMK adalah untuk: Pelayanan kepada siswa SMK sehingga siswa mendapatkan pendidikan kejuruan yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat siswa Pelayanan kepada siswa dalam proses pengenalan diri, pengenalan lingkungan dunia kerja dan memberi wawasan arah karier kejuruan. Pelayanan kepada tamatan untuk mencari pekerjaan dan mandiri. Hubungan Antara Bimbingan Karir Terhadap Minat Berwirausaha Pada Siswa SMK Siswa SMK sebagai calon tenaga terampil diharapkan mampu untuk membekali diri dengan kedewasaan dalam merencanakan masa depan kariernya. Sesuai dengan tujuan dari Pendidikan Kejuruan, bahwa siswa-siswa SMK pada akhirnya nanti diorientasikan ke dunia kerja, dimana menuntut adanya sikap dan tanggung jawab kerja yang profesional. Hal ini menjadi penting ketika siswa-siswa SMK setelah lulus nanti mampu untuk memilih dan optimis dalam menentukan karier yang lebih baik yang salah satu caranya dengan berwirausaha. Dalam kaitannya dengan perencanaan masa depan sehubungan dengan karir bagi siswanya, Bimbingan dan konseling memberikan layanan yaitu bimbingan karir sebagai bantuan bagi siswa dalam mewujudkan impian yang berkenaan dengan karir. Melalui bimbingan karier, siswa SMK diberikan layanan tentang pemahaman diri terhadap kecenderungan karier, layanan-layanan informasi-informasi peluang usaha sehingga siswa dapat mendeteksi kemampuan yang ada pada diri dan menyadarkan tantangan usaha diluar sana bahwa tidak mudah dalam mencari pekerjaan dan informasi-informasi itu dapat digunakan oleh siswa untuk memilih alternative lain seperti berwirausaha Dari serangkaian layanan dan arahan yang terdapat dalam bimbingan karier tersebut mampu menumbuhkan minat siswa dalam berwirausaha. Hal ini ditunjukkan melalui ketertarikan, perhatian, keinginan, keyakinan, keputusan kepada bidang usaha yang akan dibuka setelah lulus nanti. Minat berwirausaha siswa dapat tercipta dari adanya pemahaman terhadap diri, informasi tentang peluang usaha yang memberikan gambaran/ karakteristik dari lingkungan usaha. HIPOTESIS Hipotesis menurut Sugiyono (2009: 96) merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu “Ada hubungan antara bimbingan karir dengan minat berwirausaha pada siswa SMK”. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian ini adalah penelitian yang bermaksud mengetahui hubungan variabel independent dan dependen, dimana salah satu variabel independennya dibuat tetap / dikendalikan. Dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian asosiatif, hal ini karena peneliti bermaksud ingin mengetahui pengaruh atau hubungan antara bimbingan karir dengan minat berwirausaha pada siswa di sekolah. Variabel Penelitian Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian penelitian (Suharsimi Arikunto, 1998: 99). Identifikasi variabel Dalam penelitian ini yang menjadi objek/titik perhatian ada dua yaitu: Variabel Bebas (independent) Menurut Sugiyono (2009: 61) variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat (dependent). Variabel bebas dalam penelitian ini merupakan bimbingan karir. Variabel bebas diberi simbol X Variabel Terikat (dependent) Menurut Sugiyono (2009: 61) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah minat berwirausaha. Variabel terikat diberi simbol Y Hubungan variabel Variabel dalam penelitian ini adalah bimbingan karir sebagai variabel bebas dan minat berwirausaha sebagai variabel terikat. Karena dalam penelitian ini variabelnya ganda maka variabel yang satu mempunyai hubungan dengan variabel yang lain. Variabel X (variabel bebas) mempengaruhi variabel Y (variabel terikat). Definisi Operasional variabel Bimbingan karir Bimbingan merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada individu dalam mencapai pemahaman dan pengarahan diri. Karir diartikan sebagai suatu rangkaian pekerjaan-pekerjaan, jabatan-jabatan dan kedudukan yang mengarah pada dunia kerja Bimbingan karir merupakan suatu proses bantuan yang diberikan pada individu melalui berbagai cara dan bentuk layanan dalam upaya membantu pemahaman diri agar mampu merencanakan karirnya dengan mantap sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan, pengetahuan dan kepribadian serta faktor-faktor yang mendukung kemajuan dirinya dihubungkan dengan persyaratan karir yang akan ditekuninya. Bimbingan karir ini diharapkan mampu memotivasi dan mengarahkan siswa dalam menentukan pemilihan alternative karir (bekerja, melanjutkan studi, berwiraswasta) yang sesuai dengan kemampuan/keahlian (skill) yang dimiliki. Minat berwirausaha Minat berwirausaha adalah keinginan, ketertarikan serta kesediaan untuk menciptakan suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berani menanggung resiko. Indikator seorang siswa memiliki minat berwirausaha meliputi aspek-aspek seperti: Attention (perhatian), Interest (ketertarikan), Desire (keinginan), Conviction (keyakinan), Decition (keputusan), kecenderungan (tindakan) Populasi dan sampel penelitian Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitit untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2009: 117). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas III SMK Negeri 2 Cilacap tahun pelajaran 2010/2011 yang terdiri dari dua jurusan yaitu Mesin Otomotif (MO) dan Mesin Perkakas (MP) yang dalam setiap jurusan terdiri dari tiga kelas diantaranya MO 1, MO 2, MO 3, MP 1, MP 2, MP 3. Jumlah siswa kelas III MO sebanyak 120 dan MP sebanyak 120. Jadi populasi dalam penelitian ini sebanyak 240 siswa. Sampel Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2009: 118). Peneliti dalam menghitung besarnya sampel dalam penelitian ini menggunakan tabel penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan dari Isaac dan Michael, untuk tingkat kesalahan 1%, 5%, 10%. Rumus untuk menghitung ukuran sampel dari populasi yang diketahui jumlahnya adalah sebagai berikut: s= (λ².N.P.Q)/(d^2 (N-1)+λ^2.P.Q) λ² dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, 10%. P = Q = 0.5 d = 0.05 s = jumlah sampel PENENTUAN JUMLAH SAMPEL DARI POPULASI TERTENTU DENGAN TARAF KESALAHAN 1%, 5%, 10% N S N S 1% 5% 10% 1% 5% 10% 10 10 10 10 95 83 75 71 15 15 14 14 100 87 78 73 20 19 19 19 110 94 84 78 25 24 23 23 120 102 89 83 30 29 28 27 130 109 95 88 35 33 32 31 140 116 100 92 40 38 36 35 150 122 105 97 45 42 40 39 160 129 110 101 50 47 44 42 170 135 114 105 55 51 48 46 180 142 119 108 60 55 51 49 190 148 123 112 65 59 55 53 200 154 127 115 70 63 58 56 210 160 131 118 75 67 62 59 220 165 135 122 80 71 65 62 230 171 139 125 85 75 68 65 240 176 142 127 90 79 72 68 … … … … Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bila jumlah populasi dalam penelitian ini adalah 240 siswa dengan taraf kesalahan 5%, maka sampelnya (S) adalah 142. Sehingga dalam penelitian ini sampel yang akan diambil peneliti adalah siswa kelas III SMK Negeri 2 Cilacap yang berjumlah 142 siswa. Teknik pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel merupakan teknik yang digunakan untuk mengambil sampel yang representatif dari populasi. Adapun teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik proposional random sampling. Teknik proposional atau sampel imbangan ini dilakukan untuk memperoleh sampel yang representative, adapun cara pengambilan subjek disesuaikan dengan besar populasi dan banyaknya sampel yang dibutuhkan. Banyak sampel per kelas dengan menggunakan teknik proposional sampel No Kelas Jumlah siswa Perhitungan sampel Jumlah sampel 1 III MO 1 40 40/240×142=23.67 24 2 III MO 2 40 40/240×142=23.67 24 3 III MO 3 40 40/240×142=23.67 24 4 III MP 1 40 40/240×142=23.67 24 5 III MP 2 40 40/240×142=23.67 24 6 III MP 3 40 40/240×142=23.67 24 Jumlah 144 Pada perhitungan sampel diatas, angka – angkanya dibulatkan ke atas sehingga diperoleh banyak sampelnya adalah 144. setelah diketahui banyak sampel per kelas, kemudian teknik random sampling digunakan untuk memperoleh banyak sampel per kelas yang dimaksud, adapun tekniknya dengan teknik undian. Langkah – langkah pengambilan sampel dengan teknik random sampling secara undian adalah sebagai berikut : Membuat daftar semua nama kelas dua dalam populasi Menulis kode berupa nomor urut sesuai dengan jumlah siswa dalam satu kelas. Menulis kode tersebut pada kertas- kertas kecil yang telah dipersiapkan sebanyak populasi yang akan diteliti. Memasukkan kertas tadi yang digulung kedalam kaleng kemudian dikocok-kocok, selanjutnya ambil gulungan kertas sebanyak sampel yang diperlukan. Setiap nomor yang tertera dalam gulungan yang terambil dicatat, itulah yang menjadi subjek penelitian. Metode dan alat pengumpulan data Penelitian ini menggunakan beberapa metode dalam pengumpulan data yaitu: Angket (kuesioner) Angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2009: 199). Metode ini digunakan untuk mengetahui keefektifan pelaksanaan bimbingan karier dan minat berwirausaha. Angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner tertutup, artinya angket diberikan langsung kepada responden kemudian responden tinggal memilih alternatif jawaban yang sudah disediakan. Pengukuran kedua variabel tersebut dengan menggunakan aletrnatif jawaban yang disediakan yaitu : selalu. Bila pernyataan positif diberi skor 4, namun bila negatif diberi skor 1 Sering. Bila pernyataan positif diberi skor 3, namun bila negatif diberi skor 2 Kadang – kadang. Bila pernyataan positif diberi skor 2, namun bila negatif diberi skor 3 Tidak pernah. Bila pernyataan positif diberi skor 1, namun bila negatif diberi skor 4 Dokumentasi Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen dan sebagainya. Dalam penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan daftar nama dan jumlah siswa kelas III MO dan MP SMK Negeri 2 Cilacap tahun ajaran 2010/2011 Wawancara Metode wawancara dilakukan dengan mengadakan tanya jawab secara langsung kepada guru Bimbingan Konseling. Metode ini digunakan untuk mengetahui pelaksanaan Bimbingan Karier di SMK Negeri 2 Cilacap. Metode wawancara ini juga sangat mendukung kelancaran metode dokumentasi. Validitas dan reliabiltas data Validitas Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan suatu instrumen. Pengukuran validitas instrument penelitian ini dilakukan menggunakan validitas isi atau content validity. Validitas ini menunjuk sejauh mana isi kuesioner mewakili semua aspek dari suatu konsep. Untuk mengetahui validitas instrumen menggunakan rumus korelasi product moment, yaitu: rxy= (N⅀xy-(⅀X)(⅀Y))/(√([(N⅀X^2- (⅀X²)][N⅀Y^2- (⅀Y)²] ) ) Keterangan: r xy = koefisien korelasi antara variable X dan variable Y N = jumlah responden uji coba X = skor item Y = skor item Pengujian keberartian koefisien xy r dilakukan dengan menggunakan uji t berdasarkan taraf signifikan 5%. Rumus yang digunakan adalah sbb: t= (r√((n-2) ) )/√(1 -r² ) Keputusan pengujian diambil dengan menggunakan ketentuan sbb: Item pertanyaan instrumen penelitian dikatakan valid jika t hitung >/= t tabel Item pertanyaan instrumen penelitian dikatakan tidak valid jika t hitung /= r tabel maka item instrument dinyatakan reliabel. Jika koefisien reliabilitas internal seluruh item ( rxx ) F tabel berarti menolak Ho dan menerima Ha yang berarti bahwa bimbingan karier mempengaruhi minat berwirausaha pada siswa kelas III SMK Negeri 2 MO DAN MP SMK Negeri 2 Cilacap tahun pelajaran 2009/2010. Sedangkan untuk menguji linieritas persamaan regresi adalah: F=S²TC/S²e Dari perhitungan rumus tersebut terjadi kemungkinan: Jika nilai F hitung < F tabel berarti persamaan regresi tersebut linier. Jika nilai F hitung > F tabel berarti persamaan regresi tersebut tidak linier. Sumbangan Efektif Untuk mengetahui sumbangan efektif variabel pengaruh bimbingan karier terhadap minat berwirausaha siswa dengan menggunakan perhitungan koefisien determinasi yaitu dengan rumus: SE = r2x100% r²= (b{n⅀XiYi -(⅀X)(⅀Y)})/(n⅀〖Yi〗^2-(⅀Yi)²) Keterangan: r2 = koefisien determinasi b = Koefisien regresi x dari persamaan regresi n = jumlah data X i = skor Bimbingan Karier Y i = skor minat berwirausaha pada siswa DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi IV). Jakarta: PT Rineka Cipta. Mapiere, Andi. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya: Usaha Nasional. Mugiarso, Heru. 2009. Bimbingan dan Konseling. Semarang: UNNES Press Muhadjir, Noeng. 1992. Pengukuran kepribadian. Yogyakarta: Rake Sarasih. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung: Alfabeta. Sukardi, Dewa Ketut. 1987. Bimbingan Karier di Sekolah-sekolah. Jakarta: Balai Pustaka. _________________1998. Pendidikan Konseling dalam Bimbingan Karir. Jakarta: Ghalia Indonesia. Suryana. 2000. Kewirausahaan. Jakarta: Salemba Empat. Syuhada, Roosdi Achmad.1998. Bimbingan dan Konseling dalam Masyarakat dan Pendidikan Luar Sekolah. Jakarta: Rajawali. Walgito, Bimo. 2004. Bimbingan dan Koseling (Studi dan Karir). Yogyakarta: Andi Offset. Yanto. 1996. Peluang Kerja dan Minat Berwiraswasta di Kalangan Siswa Sekolah Teknologi Menengah Negeri Pembangunan Pekalongan (Laporan Penelitian). Semarang: IKIP Semarang.