Jumat, 02 Maret 2012

Just Wait...Please Promise with u'Heart...

For cassie....this letter maybe can u conscious that TVXQ is always 5 member not exist JYJ or Homin. Yunho, Changmin, Jaejoong, Yoochun, and Junsu are still TVXQ/DBSK/Tohoshinki. 


Tidakkah kita harus kuat, Cassiopeia?
Jika JYJ …
Jika’s HoMin …
Siapa yang peduli?
Apa SM inginkan sekarang?
Mereka ingin Cassiopeia untuk memerangi satu sama lain sehingga TVXQ tidak akan memiliki apa-apa lagi.
HoMin bekerja sangat, sangat sedikit selama satu tahun. Mereka tidak muncul di televisi atau radio dan SM baru saja membawa mereka keluar.
Karena apa?
Hal ini karena SM tahu persis bahwa meskipun HoMin tidak ikut menggugat dalam kasus, namun hati mereka masih untuk  3 anggota lain.
Harap ingat ini Cassiopeia.
HoMin masih berada di SM,sehingga mereka tidak memiliki hak untuk melakukan apa pun.
Kita tidak tahu apa kisah nyata sebenarnya.
Kita tidak tahu bagaimana hal itu di balik layar.
Kita tidak tahu apa yang Jaejoong, Yoochun, Changmin, Yunho dan Junsu harus lalui.
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Kita tidak pernah tahu.
Tapi ada banyak hal yang kita tahu persis.
Kita tahu Kim Jaejoong mencintai 4 anggota lain dan dia mencintai Cassiopeia.
Kita tahu Jung Yunho mencintai 4 anggota lain dan dia mencintai Cassiopeia.
Kita tahu shim Changmin mencintai 4 anggota lain dan dia mencintai Cassiopeia.
Kita tahu Kim JunSu mencintai 4 anggota lain dan dia mencintai Cassiopeia.
Kita tahu Park YooChun mencintai 4 anggota lain dan dia mencintai Cassiopeia.
Kita tahu Dong Bang Shin Ki mencintai Cassiopeia.
Kita tahu ada waktu Yunho bersandar di bahu Jaejoong untuk menangis .. hanya karena dia tidak ingin ada anggota lain untuk melihat kelemahannya.
Kita tahu ada waktu YooChun menulis pesan dan bersembunyi di belakang komputer bersama pangeran kecil bernama shim Changmin.
Kita tahu ada waktu Jung Yunho membawa tubuh pingsan Junsu di punggungnya ke rumah sakit.
Kita tahu ada waktu Jaejoong melihat YooChun saat ketika dia tahu beberapa menit sebelum menunjukkan bahwa YooChun sakit.
Kita tahu ada waktu Yunho ada semalaman untuk Junsu ketika JunSu sakit.
Kita tahu ada waktu Jaejoong menari dengan air mata di wajahnya ketika Yunho diracun.
Kita tahu ada waktu wajah Jaejoong pucat parah ketika melihat pemimpin grup mereka runtuh saat ia minum segelas jus.
Kita tahu ada waktu JunSu mengambil dompet untuk Yunho yang lupa  dan Jaejoong harus mengambil dompet untuk Junsu karena JunSu lebih mementingkan orang lain.
Kita tahu ada waktu JunSu menangis di belakang Yunho.
Kita tahu ada waktu Yunho dilindungi oleh JunSu dan  kembali kuat.
Kita tahu ada saat ketika selesai konser pemimpin grup berseru dengan gembira dengan Jaejoong.
Kita tahu ada waktu YooChun menangis karena desas-desus bahwa Jaejoong akan dipecat dari TVXQ.
Kita tahu ada waktu Yunho berkata ‘Tanpa fans kami, kami bukan apa-apa. “
Kita tahu ada waktu Yunho berkata ‘TVXQ adalah seperti satu keluarga, masalah rumah? tidak seberapa jauh kita terpisah, kita akan kembali bersama-sama suatu hari. “
Kita tahu ada waktu Changmin berkata ‘Apa pun kami berlima melalui, bersama-sama kita bisa melewati tanpa rasa takut.
Kita tahu ada waktu Yunho berkata “Bahkan sampai saatnya bagi kita untuk menempuh jalan kita sendiri terpisah, nama TVXQ tidak akan hilang. Setiap anggota masih TVXQ.
Kita tahu ada waktu JunSu berkata ‘Jika Jaejoong sakit, seolah-olah kaki TVXQ sedang sakit, dan jika Changmin sedang sakit, itu berarti lengan TVXQ sedang sakit.
Kita tahu ada waktu YooChun berkata “Kalau persahabatan kami bisa bertahan selamanya, aku tidak membutuhkan yang lain. ’
Kita tahu ada waktu JunSu berkata ‘Cassiopeia … yang menunggu untuk kita kemanapun kita pergi dan selalu memberi kita kasih yang kuat … Engkau adalah alasan mengapa TVXQ ada. “
Kita tahu ada waktu Yunho berkata “Tidak peduli seberapa jauh kita terpisah, kita akan kembali bersama-sama suatu hari. ’
Kita tahu ada waktu YooChun dan Changmin berkata ‘Tanpa Yunho, tidak akan ada TVXQ. “
Kita tahu ada waktu JunSu berkata ‘Jika salah satu anggota tim pergi, saya tidak akan tinggal di TVXQ lagi. ’
Kita tahu ada waktu YooChun berkata ‘dukungan kami untuk mereka (HoMin) tidak akan pernah berubah. “
Kita tahu ada waktu Jaejoong berkata ‘Yunho dan Changmin sering muncul dalam mimpi kita”
Kita tahu ada waktu anggota JYJ mengatakan “walau itu akan memakan waktu tapi jelas kita akan SATU lagi”
Kita tahu ada waktu Yunho mengorbankan tempat tidurnya untuk Jaejoong.
Kita tahu ada waktu ketika changmin hanya punya satu keinginan yaitu Jaejoong pulih seperti biasa.
Kita tahu ada waktu Changmin menyanyikan vokal tinggi untuk membantu YooChun ketika ia mendapat serangan asma.
Kita tahu ada waktu Jung Yunho melindungi segala sesuatu untuk Dong Bang Shin Ki.
Kita tahu ada waktu Park YooChun mengorbankan segalanya terbang dari Amerika Serikat untuk Dong Bang Shin Ki.
Kita tahu ada waktu Kim Jaejoong melakukan apa saja untuk menjadi Dong Bang Shin Ki.
Kita tahu ada waktu Kim JunSu berusaha paling keras untuk menjadi Dong Bang Shin Ki.
Kita tahu ada waktu shim Changmin mengalami semuanya untuk Dong Bang Shin Ki.
Kami tahu bahwa sering kali Dong Bang Shin Ki menyuruh kita untuk menunggu mereka.
Kami tahu ada sering kali Yunho berkata “mereka mengasihi kita begitu banyak”
Kami tahu sering kali Dong Bang Shin Ki mengatakan, mereka sangat menyesal untuk membuat Cassiopeia menunggu mereka.
Kami tahu sering kali Jaejoong selalu mengatakan bahwa ‘Bisakah Anda menunggu untuk kami, kumohon? “
Kami tahu seringkali YooChun menangis untuk Cassiopeia.
Kami tahu sering kali JunSu memberi senyum malaikat kepada kita.
Kami tahu sering kali Changmin membungkuk sangat rendah untuk berterima kasih untuk kita.
Kami tahu sering kali Changmin berkata serius ‘ kami mencintai Merekai.’.
Kita tahu ada sering kali mereka berjanji kepada kita melalui lagu.
Kita tahu sering kali mereka bangga Cassiopeia.
Kita tahu sering  kali mereka dilindungi Cassiopeia.
Kita tahu sering  kali mereka bergantung pada kita.
Kita tahu sering  kali mereka percaya di dalam kita.
Kita tahu sering  kali mereka hanya melihat kita.
Kita tahu sering  kali mereka membutuhkan kita.
Kita tahu akan ada satu juta kali mereka berkata kepada kami “Terima kasih … maaf … I love you”
Kita tahu akan ada jutaan kali kita katakan kepada mereka “Aku akan menunggu … jangan menangis .. Aku cinta kalian ‘”
Kita tahu seberapa dekat anggota satu sama lain dalam Dong Bang Shin Ki.
Kita tahu ada banyak lagi hal-hal yang sulit … tapi mereka tidak pernah mengatakan.
Kami tahu saat ini … saat ini … mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Jika ada orang yang pergi, ada juga orang yang tinggal. Kita tidak perlu 800.000 untuk menjadi bahagia …
seberapa banyak kita sakit,tidak dapat dibandingkan dengan mereka.
ketika mereka terpisah lihatlah bahwa mereka sama-sama menderita, merasakan sakit


Kalian perhatikan gambar-gambar mereka, menunjukkan kesedihan yang tak ingin ditunjukkan kepada kalian cassiopeia. 
Jika kita mulai bertengkar satu sama lain … maka rencana SM adalah berhasil.
‘ALWAYS KEEP THE FAITH’ jangan mengatakan ini jika tidak datang dari hati Anda.
Cassiopeia selalu menjadi satu dan berada di sini untuk dong bang shin ki.
Tidak peduli apa yang terjadi, kita harus berada di sini untuk mereka.
berjanjilah kita …. mohon, dengan hati mu.
P.S. [1]

bagi mereka yang mendukung JYJ tetapi tidak mendukung HoMin atau mendukung HoMin tetapi tidak mendukung JYJ jangan disebut dirimu ‘Cassiopeia’ karena cinta Cassiopeia untuk lima dewa kita itu sama. Cassiopeia bersabarlah untuk menunggu mereka, 

Rabu, 25 Januari 2012


TUGAS INDIVIDU
NAMA           : MUGI LESTARI
NIM                : 1301409019
JURUSAN     : BIMBINGAN DAN KONSELING

1.      Apa yang dimaksud dengan motivasi, minat, perhatian,dan sikap?
·         motivasi adalah suatu kondisi atau status internal (kadang-kadang diartikan sebagai kebutuhan, keinginan, atau hasrat) yang mengarahkan perilaku seseorang untuk aktif bertindak dalam rangka mencapai suatu tujuan.
·         minat merupakan suatu perhatian khusus terhadap suatu hal tertentu yang tercipta dengan penuh kemauan dan tergantung dari bakat dan lingkungannya. Minat dapat dikatakan sebagai dorongan kuat bagi seseorang untuk melakukan segala sesuatu dalam mewujudkan pencapaian tujuan dan cita-cita yang menjadi keinginannya.
·         perhatian sebagai pemusatan atau konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan kepada satu atau sekumpulan objek.
·         sikap merupakan suatu keadaan internal (internal state) yang mempengaruhi pilihan tidakan
individu terhadap beberapa obyek, pribadi, dan peristiwa.

2.      Apa yang mempengaruhi munculnya motivasi, minat, perhatian dan sikap?
Faktor yang mempengaruhi munculnya motivasi :
·         Faktor instrinsik berupa kepribadian, sikap, pengalaman dan pendidikan, atau berbagai harapan, cita-cita yang menjangkau ke masa depan. 
·         Faktor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber, bisa karena pengaruh pimpinan, kolega atau faktor-faktor lain yang kompleks
Faktor yang mempengaruhi munculnya minat :
·         Faktor dorongan dari dalam yaitu faktor yang berhubungan erat dengan dorongan fisik yang merangsang individu untuk mempertahankan dirinya dari rasa sakit, lapar dan berkaitan dengan kebutuhan fisik lainnya.   
·         Faktor motif sosial yaitu yang dapat meningkatkan minat untuk melakukan aktifitas tertentu demi memenuhi kebutuhan sosial.
·         Faktor emosi yaitu faktor perasaan yang erat hubungannya dengan objek tersebut dan kemudian berhasil dengan sukses akan menimbulkan perasaan senang dan puas.
Faktor yang mempengaruhi munculnya perhatian :
·         Faktor eksternal penarik perhatian. Stimuli diperhatikan karena mempunyai sifat-sifat yang menonjol yaitu :
a.       Gerakan : manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak. Kita tertarik pada display lampu yang berkerlap-kerlip daripada yang bersinar secara monoton
b.      Intensitas stimulus : manusia akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol, lebih besar dan yang lebih kuat.
c.       Kebaruan (novelty) : Hal-hal baru atau diluar kebiasaan akan membuat individu tertarik.
d.      Ulangan dari stimulus : Stimulus yang diulangi akan menarik perhatian dari pada yang tidak. Contoh bunyi klakson yang berulang-ulang akan menarik perhatian
e.       Kontras ; stimulus yang berbeda atau bertentangan dengan stimulus lainnya akan lebih menarik perhatian.
·         Faktor internal penarik perhatian
Perhatian adalah bersifat selektif artinya individu dalam memperhatikan sesuatu berdasar kan juga kehendak yang ada dalam jiwanya.
a.       faktor biologis adalah faktor berkaitan dengan kebutuhan manusia. Dalam keadaan lapar seluruh pikiran manusia akan tertuju pada makanan.
b.   Faktor sosiopsikologis yaitu faktor yang dipengaruhi akan kebiasaan, sikap dan kemauan.
Faktor yang mempengaruhi munculnya sikap :
·         Faktor bawaan berupa bakat
·         Faktor lingkungan pendidikan dan belajar.

3.      Bagaimana proses munculnya motivasi, minat, perhatian dan sikap?
·         Proses munculnya motivasi, motivasi dapat muncul karena adanya dorongan dari dalam maupun dari luar individu.
·         Proses munculnya minat : karena adanya perhatian, daya dorong tiap-tiap individu dan kesenangan. Seseorang memperhatikan sesuatu dan mengamatinya, kemudian timbul dorongan atau keinginanan terhadap sesuatu yang diperhatikan tersebut.
·         Proses munculnya perhatian : terjadi pada seseorang ketika tanpa sengaja melihat suatu objek yang unik, dan tanpa disadari orang itu memperhatikan objek tersebut.
·         Proses munculnya sikap : terjadi saat muncul stimulus dan kemudian seseorang merespons stimulus tersebut.

4.      Peran apa saja yang dapat diberikan oleh kognisi, bakat, emosi dan psikomotor terhadap munculnya perilaku?
Bakat dilihat dengan kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan. Jadi perilaku yang diperlihatkan merupakan pengaruh dari bakat. Kognisi mempengaruhi perilaku melalui pemikiran-pemikiran yang akan dilakukan. Emosi sangat mempengaruhi sikap, orang yang dapat mengontrol emosinya maka sikapnya pun juga dapat dikendalikan dengan baik, sebaliknya bagi orang yang tidak dapat mengontrol emosinya akan menyulitkan seseorang dalam mengendalikan sikap yang akan terjadi. Sedangkan psikomotor mempengaruhi perubahan sikap.

5.      Deskripsikan dan jelaskan jenis-jenis: motivasi, bakat, dan sikap?
Jenis-jenis motivasi :
·         Motif primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan, minum, melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.
·         Motif sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.
Jenis-jenis bakat :
  • Kecerdasan Linguistik
Adalah kecerdasan mengelola kata-kata. Kecerdasn ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Mereka gemar sekali membaca, dapat menulis dengan jelas, dapat mengartikan bahasa tulisan dengan jelas.
  • Kecerdasan Logis-matematis
Adalah kecerdasan dalam hal angka dan logika. Kecerdasan para ilmuwan, akuntan, pemrograman computer.
  • Kecerdasan Spasial
Adalah kecerdasan yang mencakup kemampuan berpikir dalam menggambar, imajinasi, serta kemampuan untuk mengubah, menyerap, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial.
  • Kecerdasan Musikal
Adalah kecerdasan yang ditandai dengan kemamapuan untuk menyerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Kecerdasan musical dimiliki oleh orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat dan dapat memainkan jenis-jenis alat musik.
Jenis-jenis sikap :
·         Sikap positif
·         Sikap negatif

6.      Untuk keperluan belajar motivasi jenis apakah yang perlu ditumbuhkembangkan pada siswa?
Motivasi yang perlu ditumbuhkembangkan pada siswa untuk keperluan belajar yaitu motivasi berprestasi.

7.      Cara-cara apa yang dapat digunakan konselor untuk meningkatkan motivasi belajar siswa?
·         Menciptakan harapan untuk sukses dalam diri siswa terhadap target yang diinginkan siswa
·         Memberikan pujian/sanjungan terhadap siswa yang telah mencapai kesuksesan tertentu.
·         Berikan jalan keluar dan contoh langkah, pemecahan dalam bentuk saran jika peserta mengalami kesulitan.

8.      Bolehkah konselor menghapus bakat siswa, berikan penjelasan  jawaban anda!
Konselor tidak boleh menghapus bakat yang ada dalam diri siswa, justru konselor harus membantu mengembangkan bakat dengan memotivasi, dan  mengarahkan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

VISI, MISI, PARADIGMA BIMBINGAN KONSELING, DAN TRILOGI PROFESI


VISI
Visi pelayanan konseling adalah terwujudnya kehidupan kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah agar peserta didik berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia.

MISI
a) Misi pendidikan, yaitu memfasilitasi pengembangan peserta didik melalui pembentukan perilaku efektif-normatif dalam kehidupan keseharian dan masa depan.
b) Misi pengembangan, yaitu memfasilitasi pengembangan potensi dan kompetensi peserta didik di dalam lingkungan sekolah/madrasah, keluarga dan masyarakat.
c) Misi pengentasan masalah, yaitu memfasilitasi pengentasan masalah peserta didik mengacu pada kehidupan efektif sehari-hari.

PARADIGMA
BK merupakan pelayanan psikopaedagogis dalam bingkai budaya Indonesia dan religius

TRILOGI PROFESI PENDIDIK
Di awal abad ke-21 ini dunia pendidikan di Indonesia mulai memasuki era profesional. Hal ini ditandai dengan penegasan bahwa “pendidik merupakan tenaga profesional” (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 39 Ayat 2), dan “profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan
yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi” (UU No.14 Tahun 2005 Pasal 1 Butir 4).
Untuk menjadi profesional, profesional dalam bidang apapun, seseorang harus menguasai dan memenuhi ketiga komponen trilogi profesi, yaitu (1) komponen dasar keilmuan, (2) komponen substansi profesi, dan (3) komponen praktik profesi, sebagaimana gambar berikut
:
Komponen dasar keilmuan memberikan landasan bagi calon tenaga profesional dalam wawasan, pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap berkenaan dengan profesi yang dimaksud. Komponen substansi profesi membekali calon profesional apa yang menjadi fokus dan objek praktis spesifik pekerjaan profesionalnya. Komponen praktik mengarahkan calon tenaga profesional untuk menyelenggarakan praktik profesinya itu kepada sasaran pelayanan atau pelanggan secara tepat dan berdaya guna. Penguasaan dan penyelenggaraan trilogi profesi secara mantap merupakan jaminan bagi suksesnya penampilan profesi tersebut demi kebahagiaan sasaran pelayanan. Penguasaan ketiga komponen profesi tersebut diperoleh di dalam program pendidikan profesi dan pendidikan akademik yang mendasarinya.
Konselor, yang adalah pendidik (UU No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 6) , sebagai tenaga professional dituntut untuk menguasai dan memenuhi trilogi profesi dalam bidang pendidikan, khususnya bidang konseling, yaitu
1. Komponen Dasar Keilmuan : Ilmu Pendidikan
Konselor diwajibkan menguasai ilmu pendidikan sebagai dasar dari keseluruhan kinerja profesionalnya dalam bidang pelayanan konseling, karena konselor digolongkan ke dalam kualifikasi pendidik; dan oleh karenanya pula kualifikasi akademik seorang konselor pertama-tama adalah Sarjana Pendidikan. Atas dasar keilmuan inilah konselor akan menguasai dengan baik kaidah-kaidah keilmuan pendidikan sebagai dasar dalam memahami peserta didik (sebagai sasaran pelayanan konseling) dan memahami seluk beluk proses pembelajaran yang akan dijalani peserta didik melalui modus pelayanan konseling. Dalam hal ini proses konseling tidak lain adalah proses pembelajaran yang dijalani oleh sasaran layanan bersama konselornya. Dalam arti yang demikian pulalah, konselor sebagai pendidik diberi label juga sebagai agen pembelajaran.
2. Komponen Substansi Profesi : Proses pembelajaran terhadap pengembangan diri/ pribadi individu melalui modus pelayanan konseling.
Di atas kaidah-kaidah ilmu pendidikan itu konselor membangun substansi profesi konseling yang meliputi objek praktis spesifik profesi konseling, pendekatan, dan teknologi pelayanan, pengelolaan dan evaluasi, serta kaidah-kaidah pendukung yang diambil dari bidang keilmuan lain. Semua subtansi tersebut menjadi isi dan sekaligus fokus pelayanan konseling. Secara keseluruhan substansi tersebut sebagai modus pelayanan konseling*).
Objek praktis spesifik yang menjadi fokus pelayanan konseling adalah kehidupan efektif sehari-hari (KES). Dalam hal ini, sasaran pelayanan konseling adalah kondisi KES yang dikehendaki untuk dikembangkan dan kondisi kehidupan efektif sehari-hari yang terganggu (KES-T). Dengan
demikian, pelayanan konseling pada dasarnya adalah upaya pelayanan dalam pengembangan KES dan penanganan KES-T.
Berkenaan dengan pendekatan dan teknologi, pengelolaan dan evaluasi pelayan konseling, konselor wajib menguasai berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukungnya dengan landasan teori, acuan praksis, standar prosedur operasional (SPO), serta implementasinya dalam praktik konseling. Pendekatan dan teknologi, pengelolaan dan evaluasi pelayanan itu perlu didukung oleh kaidah-kaidah keilmuan dan teknologi seperti psikologi, sosiologi, teknologi- informasi-komunikasi sebagai “alat” untuk lebih menepatgunakan dan mendayagunakan pelayanan konseling.
3. Komponen Praktik Profesi : Penyelenggaraan proses pembelajaran terhadap sasaran pelayanan melalui modus pelayanan konseling.
Praktik pelayanan konseling terhadap sasaran pelayanan merupakan puncak dari keberadaan bidang konseling pada setting tertentu**). Mutu pelayanan konseling diukur dari penampilan paktik pelayanan oleh konselor terhadap sasaran pelayanan. Pada setting satuan pendidikan misalnya, mutu kinerja konselor di sekolah/ madrasah dihitung dari penampilannya dalam praktik pelayanan konseling terhadap siswa yang menjadi tanggung jawabnya.
Penguasaan konselor atas materi ketiga komponen trilogi profesi konseling tersebut diperolah dari studi pada program bidang konseling tingkat sarjana (S-1) ditambah dengan pendidikan profesi konselor (PPK). Seluruh materi tersebut dipadukan dalam bentuk praktik pelayanan konseling melalui persiapan yang matang berupa berbagai program pelayanan sesuai dengan kebutuhan sasaran pelayanan.
By Mugi Lestari

PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING

Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pendoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling prinsip-prinsip yang digunakan bersumber dari kajian filosofis, hasil-hasil penelitian, dan pengalaman praktis tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Pemahaman konselor terhadap prinsip-prinsip dasar akan dapat menghindarkan konselor dari kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan dalam praktik pemberian layanan bimbingan dan konseling. Adapun prinsip-prinsip layanan bimbingan dan konseling, yaitu :

A. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Berkenaan dengan Klien
Hal yang mendorong dirumuskannya prinsip-prinsip ini merupakan variasi dan keunikan keindividualan, aspek-aspek pribadi dan lingkungan, serta sikap dan tingkah laku dalam perkembangandan kehidupannya. Prinsip-prinsipyang berkenaan dengan klien, yaitu :
1. Bimbingan dan konseling melayani semua individu (klien), tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, dan status sosial ekonomi.
2. Bimbingan dan konseling berurusan dengan pribadi dan tingkah laku klien yang terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks dan unik.
3. Bimbingan dan konseling memperhatikan sepenuhnya tahap dan berbagai aspek perkembangan individunya tahap dan berbagai aspek perkembangan individu.
4. Bimbingandan konseling memberikan perhatian utama terhadap perbedaan individual yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.

B. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Berkenaan dengan Konselor
Konselor melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling dengan mulai memahami tujuan diadakannya pelayanan. Kemudian program bimbingan dan konseling secara teratur dan optimal dengan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Konselor harus mampumengarahkan individu untuk pengembangan individu agar mampu membimbing diri sendiri dalam menghadapi permasalahan.
2. Permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli (konselor) dalam bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
3. Kerjasama antara pembimbing, guru, dan orang tua menentukan hasil pelayananan bimbingan.

C. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Berkenaan dengan Masalah
Faktor-faktor yang pengaruhnya negatif terhadap perkembangan dan kehidupan individu akan menimbulkan hambatan-hambatan yang akhirnya menimbulkan masalah tertentu pada individu. Prinsip-prinsip yang berkenaan dengan masalah individu, yaitu :
1. Bimbingandan konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut kondisi mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di lingkungannya dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
2. Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu dan hal ini menjadi perhatian utama pelayanan bimbingan.

D. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling Berkenaan dengan Program Layanan
Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling dapat diselenggarakan secara “insidental” maupun terprogram. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program layanan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
1. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pengembangan individu, karena itu program bimbingan harus disesuaikan dan dipadukan dengan program pendidikan serta pengembangan peserta didik.
2. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan individu, masyarakat, dan kondisi lembaga.
3. Program bimbingan dan konseling disusun secara berkesinambungan darri jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tinggi.
4. Terhadap isi dan pelaksanaan program bimbingan dan konseling perlu adanya penilaian yang teratur dan terarah.

E. Prinsip-Prinsip Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Di sekolah pelayanan bimbingan dan konseling diharapkan dapat tumbuh dan berkembang dengan amat baik mengingat sekolah memilki kondisi dasar yang menuntut adanya pelayanan ini pada kadar yang tinggi. Namun harapan akan tumbuh kembangnya pelayanan bimbingan dan konseling masih tetap berupa harapan, karena keberadaannya di sekolah seperti belum dikehendaki. Dalam kaitan ini, Belkin (1975) menegaskan enam prinsip untuk menegakkan dan menumbuhkembangkan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, yaitu :
1. Konselor harus memulai kariernya dengan program kerja yang jelas, dan mamiliki kesiapan yang tinggi untuk melaksanakan program tersebut, serta memberikan kesempatan kepada seluruh personal sekolah dan siswa untuk mengetahui program-program yang hendak dijalankan.
2. Konselor harus selalu bersikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungan antara konselor dengan personal sekolah lainnya dan siswa.
3. Konselor bertanggung jawab untuk memahami peranannya sebagai konselor profesional dan menerjemahkannya peranannya itu ke dalam kegiatan nyata.
4. Konselor bertanggungjawab kepada semua siswa.
5. Konselor harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa-siswa yang mengalami masalah dan siswa-siswa yang menderita gangguan emosional.
6. Konselor harus mampu bekerjasama secara efektif dengan kepala sekolah, memberika perhatian yang peka terhadap kebutuhan harapan, dan kecemasan-kecemasannya.


ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
Asas-asas bimbingan dan konseling, yaitu ketentuan-ketentuan yang harus diterapkan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Apabila asas-asas itu diikuti dan terselenggara dengan baik dapat diharapkan proses pelayanan mengarah pada pencapaian tujuan yang diharapkan. Adapun asas-asas bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
1. Asas Kerahasiaan
Bagi klien yang bermasalah dan ingin menyelesaikan masalahnya akan sangat membutuhkan bantuan dari orang yang dapat menyimpan kerahasiaan masalah yang dihadapinya. Segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disebarluaskan pada pihak-pihak lain. Jika asas ini benar-benar dilaksanakan oleh konselor, maka konselor dapat kepercayaan dari semua pihak dan mereka akan memanfaatkan jasa bimbingan dan konseling.
2. Asas Kesukarelaan
Untuk mencapai keberhasilan pelayanan bimbingan dan konseling maka proses bimbingan dan konseling harus berlangsung atas dasar sukarela. Klien secara suka dan rela tanpa ada perasaaan terpaksa, maupun menyampaikan masalah yang dihadapinya dengan mengungkapkan secara terbuka hal-hal yang dialaminya. Konselor dapat memberikan bantuan dengan sukarela, tanpa adanya keterpaksaan atau dengan penuh keikhlasan, kapan pun klien membutuhkan konselor, konselor siap.
3. Asas Keterbukaan
Untuk pencapaian tujuan bimbingan dan konseling , sangat diperlukan suasana keterbukaaan antara konselor dengan klien dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. Dari pihak klien diharapkan membuka diri dan mau menerima saran-saran serta masukan dari konselor dalam rangka pemecahan masalahnya. Aplikasinya konselor ada kesediaan untuk menjawab pertanyaan klien dan mau mengungkapkan keadaan dirinya bila dikehendaki klien dengan kata lain tidak ada yang ditutup-tutupi.
4. Asas Kekinian
Masalah klien yang ditangani ialah masalah-masalah yang sedang saat ini dirasakan, dan kemungkinan masalah yang akan dialami pada masa yang akan datang. Untuk mendukung fungsi pencegahan, maka pertanyaan yang perlu dijawab adalah apa yang perlu dilakukan sekarang, sehingga kemungkinan yang kurang baik di masa mendatang dapat dihindari.
5. Asas Kemandirian
Pencapaian tujuan dari pelayanan bimbingan dan konseling bilamana klien dapat berdiri sendiri, tidak bergantung pada oaring lain maupun konselor. Ciri-ciri individu yang setelah dibimbing dan dapat mandiri adalah sebagai berikut :
a. Mengenal diri sendiri dan lingkungan sebagaimana adanya
b. Menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis
c. Mengambil keputusan untuk dan oleh diri sendiri.
d. Mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambil
e. Mewujudkan diri secara optimal sesuai dengan potensi, minat, dan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya
Kemandirian individu sesuai dengan ciri-ciri di atas haruslah disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan peranan individu dalam kehidupannya sehari-hari. Aplikasinya
6. Asas Kegiatan
Asas ini merujuk pada pola konseling “multi dimensional” yang tidak hanya mengandalkan transaksi verbal antara klien dan konselor. Hasil usaha layanan bimbingan dan konseling tidak akan berarti bila klien yang dibimbing tidak melakukan kegiatan dalam mencapai tujuan-tujuan bimbingan.
7. Asas Kedinamisan
Upaya layanan bimbingan dan konseling menghendaki terjadinya perubahan tingkah laku pada diri klien yang dibimbing yaitu perubahan tingkah laku ke arah yang lebih baik atau dengan kata lain perubahan tingkah laku yang selalu menuju suatu pembaharuan, sesuatu yang lebih maju, dinamis sesuai arah perkembangan klien yang dikehendaki.
8. Asas Keterpaduan
Layanan bimbingan dan konseling berupaya memadukan berbagai aspek kepribadian klien yang dibimbing, sebagaimana diketahui bila berbagai aspek tersebut keadaannya tidak serasi dan terpadu akan menimbulkan masalah. Disamping keterpaduan pada diri klien yang dibimbing, juga diperhatikan keterpaduan isi dan proses layanan yang diberikan kepada klien.
9. Asas Kenormatifan
Dalam usaha layanan bimbingan dan konseling baik isi maupun proses penyelenggaraan yang meliputi seluruh isi layanan, prosedur, teknik dan peralatan yang dipakai tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang berlaku seperti norma agama, norma adat, norma hokum, norma ilmu, maupun kebiasaan sehari-hari.
10. Asas Keahlian
Asas keahlian mengacu pada kualifikasi konselor dan pengalaman. Teori dan praktek bimbingan dan konseling perlu dipadukan. Oleh karena itu, maka sebagai konselor ahli harus menguasai teori dan praktek konseling secara benar dan baik. Asas keahlian ini akan menjamin keberhasilan usaha bimbingan dan konseling, dan selanjutnya keberhasilan bimbingan dan konseling akan meningkatkan kepercayaan masyarakat pada bimbingan dan konseling.
11. Asas Alih Tangan
Asas ini mengacu bahwa bila konselor sudah mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu klien tetapi klien belum dapat terbantu sebagaimana yang diharapkan karena masalah yang dialami klien berada di luar kemampuan dan kewenangannya, maka konselor dapat mengalihtangankan klien tersebut kepada petugas atau konselor lainnya yang lebih ahli untuk menangani masalah klien atas persetujuan klien yang dialihtangankan.
12. Asas Tut Wuri Handayani
Asas ini menunjuk pada suasana umum yang hendaknya tercipta dalam rangka hubungan keseluruhan antara konselor dan klien. Asas ini menuntut
agar layanan bimbingan dan konseling tidak hanya dapat dirasakan keberadaanya dan manfaatnya pada waktu klien mengalami masalah dan menghadap konselor, namun juga dapat dirasakan di luar hubungan pada pelaksanaan bimbingan dan konseling.


APLIKASI ASAS-ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
1. Asas Kerahasiaan
Aplikasinya adalah segala sesuatu yang dibicarakan klien kepada konselor tidak boleh disebarluaskan pada pihak-pihak lain.
2. Asas Kesukarelaan
Aplikasinya adalah konselor dapat memberikan bantuan dengan sukarela, tanpa adanya keterpaksaan atau dengan penuh keikhlasan, kapan pun klien membutuhkan konselor, konselor siap.
3. Asas Keterbukaan
Aplikasinya konselor ada kesediaan untuk menjawab pertanyaan klien dan mau mengungkapkan keadaan dirinya bila dikehendaki klien dengan kata lain tidak ada yang ditutup-tutupi.
4. Asas Kekinian
Konselor tidak menunda-nunda pemberian bantuan
5. Asas Kemandirian
Konselor hendaknya berusaha menghidupkan kemandirian pada diri klien, bukan justru menghidupkan ketergantungan klien pada konselor.
6. Asas Kegiatan
Konselor hendaknya membangkitkan semangat klien sehingga klien mau dan mampu melaksanakan kegiatan yang diperlukan dalam penyelesaian masalah yang menjadi pokok pembicaraan dalam konseling.
7. Asas Kedinamisan
Konselor mengarahkan perubahan tingakah laku klien ke arah yang lebih baik.
8. Asas Keterpaduan
Konselor dapat memadukan isi dan proses layanan dengan aspek kepribadian klien.
9. Asas Kenormatifan
Konselor dalam proses layanan tidakbertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
10. Asas Keahlian
Konselor menguasai teori dan praktek konseling secara benar dan baik.
11. Asas Alih Tangan
Apabila konselor sudah tidak menangani masalah yang dihadapi klien, lebih baik diserahkan kepada yang lebih ahli.
12. Asas Tut Wuri Handayani
Konselor menjalin hubungan baik dengan klien, atau dengan kata lain kapan pun klien membutuhkan konselor siap.

IMPLIKASI ASAS BIMBINGAN DAN KONSELING
Apabila konselor mengikuti dan menerapkan asas-asas bimbingan dan konseling dalam pelayanan maka pelayanan akan mengarah pada tujuan yang diharapkan.
By: Mugi Lestari

MODEL DAN POLA PELAYANAN
BIMBINGAN DAN KONSELING

A. MODEL-MODEL BIMBINGAN
Istilah model menurut Shertzer dan Stone (1981) yaitu suatu konseptualisasi yang luas, bersifat teoritis namun belum memenuhi semua persyaratan bagi suatu teori ilmiah. Adapun model-model yang dikembangkan oleh orang tertentu untuk menghadapi tantangan yang timbul dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan pendidikan sekolah, yaitu :
1. Frank Parsons menciptakan model Vocational Guidance yang menekankan ragam jabatan bimbingan dengan menganalisis diri sendiri, analisis terhadap bidang pekerjaan, serta memadukan keduanya dengan berpikir rasional dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan data serta wawancara konseling.
2. William M. Proctor, (1925) mengembangkan model bimbingan dengan mengenalkan dua ungsi yaitu fungsi penyaluran dan fungsi penyesuaian menyangkut bantuan yang diberikan kepada siswa.
3. John M. Brewer, (1932) mengembangkan ragam bimbingan seperti bimbingan belajar, bimbingan rekreasi, bimbingan kesehatan, bimbingan moral, dan bimbingan perkembangan.
4. Donal G.Patterson, (1938) dalam konseling yang dikenal dengan metode klinis menekankan perlunya menggunakan teknik-teknik untuk mengenali konseling dengan menggunakan tes psikologis dan studi diagnostik.
5. Wilson Little dan Al Champman, (1995) model yang diungkapkan oleh Wilson dan Champman memanfaatkan bentuk pelayanan individual dan kelompok, mengutamakan sifat bimbingan preventif dan preservatif dan melayani bimbingan belajar, jabatan dan bimbingan pribadi.
6. Kenneth B. Hoyt (1962) mendiskripsikan model bimbingan mencakup sejumlah kegiatan bimbingan dalam rangka melayani kebutuhan siswa di jenjang pendidikan dasar dan menengah.
7. Ruth Strabf, (1964) model yang dikemukakan menekankan bentuk pelayanan individu dan kelompok dan mengutamakan komponen bimbingan pengumpulan dan wawancara konseling.
8. Arthur J. Jones, (1970) model yang dikemukakan menekankan bentuk layanan individu mengutamakan ragam bimbingan belajar serta bimbingan jabatan dan memberi tekanan pada komponen bimbingan penempatan pengumpulan data serta wawancara.
9. Chris D. Kehas, (1970) merumuskan tujuan pendidikan di sekolah memberikan tekanan pada perkembangan kepribadian peserta didik, namun realitanya hanya aspek intelektual yang diperhatikan, dengan kata lain tenaga bimbingan hanya berfungsi meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar di kelas.
10. Ralp Moser dan Norman A. Srinthall, (1971) mengemukakan bahwa pelayanan bimbingan tidak hanya dibatasi pada mereka saat menghadapi konselor sekolah, tetapi sampai pada semua siswa yang mengikuti pendidikan psikologis agar menunjang perkembangan kepribadian para siswa dengan mengutamakan belajar dinamika-efektif yang menyangkut perkembangan nilai-nilai hidup serta sikap-sikap.
11. Julius Menacker,(1976) model ini menekankan usaha mengadakan perubahan dalam lingkungan hidup yang menghambat perkembangan yang optimal bagi siswa.
B. POLA-POLA DASAR PELAKSANAAN BIMBINGAN DAN KONSELING
Menurut hasil analisis Edward C. Glanz (1964) dalam sejarah perkembangan pelayanan bimbingan di institusi pendidikan muncul empat pola dasar yaitu :
1. Pola Generalis, bahwa corak pendidikan dalam suatu institusi pendidikan berpengaruh terhadap kuantitas usaha belajar siswa, dan seluruh staf pendidik dapat menyumbang pada perkembangan kepribadian masing-masing siswa.
2. Pola Spesialis, bahwa pelayanan bimbingan di institusi pendidikan harus ditangani oleh ahli-ahli bimbingan yang masing-masing berkemampuan khusus dalam cara pelayanan bimbingan tertentu, seperti bimbingan karir,bimbinan konseling.
3. Pola Kurikuler, bahwa kegiatan bimbingan di institusi pendidikan diusulkan dalam kurikulum pengajaran dalam bentuk pengajaran khusus dalam rangka suatu kursus bimbingan. Pola ini mempunyai segi positif yaitu terlibat hubungan langsung dalam seluk beluk pengajaran, sedangkan segi negatifnya adalah kemajuan dalam pemahaman diri dan perkembangan kepribadian tidak dapat diukur melalui suatu tes hasil belajar.
4. Pola Relasi-Relasi Manusia dan Kesehatan Mental, bahwa orang akan hidup lebih bahagia bila menjaga kesehatan mentalnya dan membina hubungan baik dengan orang lain.


ORGANISASI BIMBINGAN DAN KONSELING
A. STRUKTUR ORGANISASI BIMBINGAN DAN KONSELING
Keterangan :
a. Unsur Kan Depdiknas, adalah personil yang bertugas melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling di sekola.
b. Kepala Sekolah ( bersama Wakil Kepala Sekolah ), adalah penganggung jawab pendidikan pada satuan pendidikan (SLTP, SMA, SMK) secara keseluruhan, termasuk penanggung jawab dalam membuat kebijakan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling.
c. Koordinator Bimbingan dan Konseling (bersama guru pembimbing/konselor sekolah), adalah pelaksana utama pelayanan bimbingan dan konseling.
d. Guru ( Mata Pelajaran atau Praktik), adalah pelaksana pengajaran dan praktik/latihan.
e. Wali Kelas, adalah guru yang ditugasi secara khusus untuk mengurusi pembinaan dan administrasi (seperti nilai rapor, kenaikan kelas, kehadiran siswa) satu kelas tertentu.
f. Siswa, adalah peserta didik yang menerima pelayanan pengajaran, praktik/latihan, dan bimbingan di SLTP, SMA, SMK.
g. Tata Usaha, adalah pembantu kepala sekolah dalam penyelenggaraan administrasi dan ketatausahaan.
h. Komite Sekolah, adalah organisasi yang terdiri dari unsure sekolah, orang tua dan tokoh masyarakat, yang berperan membantu penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan.
B. PERAN PERSONIL BIMBINGAN DAN KONSELING
Bimbingan dan konseling di sekolah oleh banyak pakar dikatakan dengan team work (Shetzer dan Stone,1985) tidak hanya oleh guru pembimbing atau konselor di bawah koordinasi seorang koordinator bimbingan dan konseling dalam penyelenggaraannya mau tidak mau akan melibatkan personil sekolah lainnya(kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, wali kelas, staf administrasi) agar lebih berperan sesuai batas-batas kewenangan dan tanggung jawabnya. Adapun peran personil sekolah yaitu :
1. Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab kegiatan pendidikan di sekolah, peran kepala sekolah yaitu:
a. Mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan, yang meliputi kegiatan pengajaran, pelatihan, dan bimbingan dan konseling di sekolah.
b. Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
c. Memberikan kemudahan bagi terlaksananya program kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
d. Melakukan supervisi terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah.
e. Menetapkan koordinator guru pembimbing yang bertanggung jawab atas koordinasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah berdasarkan kesepakatan bersama guru pembimbing (konselor).
f. Membuat surat tugas pembimbing dalam proses bimbingan dan konseling pada tiap awal semester.
g. Menyiapkan surat pernyataan melakukan kegiatan bimbingan dan konsleing sebagai bahan usulan angka kredit bagi guru pembimbing (konselor).
h. Mengadakn kerjasama dengan instansi lain yang terkait dengan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling.
i. Melaksanakan layanan bimbingan dan konseling terhadap minimal 40 siswa bagi kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.
2. Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah bertugas membantu kepala sekolah dalam hal:
a. Mengkoordinasikan pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling kepada semua personil sekolah
b. Melaksanakan kebijakan pimpinan sekolah terutama dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
c. Melaksanakan bimbingan dan konseling terhadap minimal 75 siswa, bagi wakil kepala sekolah yang berlatar belakang pendidikan bimbingan dan konseling.
3. Koordinator Guru Pembimbing (Konselor)
Peran coordinator bimbingan dan konseling adalah sebagaiberikut:
a. Mengkoordinasikan para guru pembimbing (konselor) dalam:
 Memasyarakatkan pelayanan bimbingan dan konseling.
 Menyusun program
 Melaksanakan program
 Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling
 Menilai program
 Mengadakan tindak lanjut
b. Membuat usulan kepada kepala sekolah dan mengusahakan terpenuhinya,tenaga, sarana dan prasarana.
c. Mempertangggungjawabkan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada kepala sekolah.
4. Guru Pembimbing (Konselor)
Adapun peran guru pembimbing atau konselor :
a. Memasyarakatkan kegiatan bimbingandan konseling
b. Merencanakan program bimbingan dan konsleing
c. Melaksanakan persiapan kegiatan bimbingan dan konseling
d. Melaksanakan layanan pada berbagai bidang bimbingan terhadap sejumlah siswa yang menjadi tanggung jawabnya
e. Melaksanakan kegiatan pendukung layanan bimbingan dan konseling
f. Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan layanan bimbingan dan konseling
g. Menganalisis hasil evaluasi
h. Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil analisis evaluasi
i. Mengadministrasikan kegiatan bimbingan dan konseling
j. Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan kepada koordinator guru pembimbing.
5. Guru Mata Pelajaran
Guru mata pelajaran berperan dalam:
a. Membantu memasyarakatkan layanan bimbingan dan konseling kepada siswa.
b. Melakukan kerjasama dengan guru pembimbing dalam mengidentifikasi siswa yang memerlukan layanan bimbingan dan konseling
c. Mengalihtangankan siswa yang memerlukan bimbingan kepada guru pembimbing
d. Mengadakan upaya tindak lanjut layanan bimbingan (program perbaikan dan program pengayaan).
e. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh layanan bimbingan dan konseling dari guru pembimbing.
f. Membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian layanan bimbingan.
g. Ikut serta dalam program layanan bimbingan.
h. Berpartisipasi dalam kegiatan pendukung seperti konferensi kasus.
i. Berpartisipasi dalam upaya pencegahan munculnya masalah siswa dalam pengembangan potensi.
6. Wali Kelas
Wali kelas mempunyai peran :
a. Membantu guru pembimbing melaksanakan layanan yang menjadi tanggungjawabnya.
b. Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa untuk mengikuti layanan bimbingan.
c. Memberikan informasi tentang siswa di kelas yang menjadi tanggungjawabnya untuk memperoleh layanan bimbingan.
d. Menginformasikan kepada guru mata pelajaran tentang siswa yang perlu diperhatikan khusus.
e. Ikut serta dalam konferensi kasus.
7. Staf Tata Usaha/Administrasi
Staf tata usaha mempunyai peran sebagai berikut :
a. Membantu guru pembimbing dan koordinator dalam mengadministrasikan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah.
b. Membantu mempersiapkan seluruh kegiatan bimbingan dan konseling.
c. Membantu menyiapkan sarana yang diperlukan dalam layanan bimbingan dan konseling.
d. Membantu melengkapi dokumen tentang siswa seperti catatan kumulatif siswa.


By Mugi Lestari

BAB I 
PENDAHULUAN

Bimbingan dan Konseling merupakan kajian yang tidak tanpa pondasi seperti rumah yang harus memiliki pondasi-pondasi kokoh agar tujuan dari pembangunan rumah itu tercapai.Bimbingan dan Konseling sebagai suatu kajian psikologi pendidikan harus dilandasi pondasi-pondasi yang kuat agar tujuan konseling klinis dan konseling berkembang tercapai.Buka saja mencapai tujuan terebut diatas,namun lebih dari ketahanan Bimbingan dan Konseling dalam prosesnya menjalankan tugas-tugas profesi.Sebuah rumah yang kokoh tentu menciptakan kesan nyaman bagi pemiliknya karena mereka merasa pondasi rumah mereka tidak akan membahayakan atau mancelakakan mereka.Bahkan lebih jauh lagi pondasi tersebut akan menimbulkan rasa percaya atau legitimasi bahwa sebuah rumah dapat menghindarkan pemiliknya dari panas,hujan,angin,dan sebagainya,sehingga kualitas hidup mereka lebih baik daripada mereka yang rumahnya tidak memiliki pondasi yang kokoh.Begitu juga Bimbingan danKonseling,sama halnya rumah yang memiliki pondasi yang kokoh,Bimbingan dan Konseling sebagai salah atu program profesi dan kependidikan harus menjawab pertanyaan ilmiah sebagaimana rumah memberikan rasa nyaman pada pemiliknya.Bimbingan dan Konseling seyogyanya dapat menjadi sahabat siswa(Kependidikan) atau seorang konselor yang membuat klien nyaman dalam proses bimbingannya.
2

BAB II
 ISI LANDASAN-LANDASAN BIMBINGAN KONSELING

A. Landasan Sosial Budaya
Sebagai makhluk sosial, manusia tidak pernah hidup seorang diri. Dimana pun dan bilamana pun manusia hidup senantiasa membentuk kelompok hidup terdiri dari sejumlah anggota guna menjamin baik keselamatan, perkembangan, maupu keturunan.
1. Individu sebagai Produk Lingkungan Sosial Budaya
Setiap anak, sejak lahirnya harus memenuhi tidak hanya tuntutan biologisnya, tetapi juga tuntutan budaya di tempat seseorang hidup menuntutnya atau menghendaki agar seseorang mengembangkan tingkah lakunya sehingga sesuai dengan pola-pola yang dapat diterima dalam budaya tersebut (McDaniel, 1956). Manusia hidup berpuak-puak, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Masing-masing puak, suku, dan bangsa memiliki lingkungan social budayanya sendiri ; yang satu berbeda dari yang lainnya. Seluruh pengaruh unsur-unsur social budaya dalam segenap tingkatnya, membentuk unsure-unsur subyektif pada diri individu. Unsur-unsur subjektif meliputi berbagai konsep dan asosiasi, sikap, kepercayaan, penilaian, harapan dan keinginan, ingatan, pendapat tentang perananan, steoreitip, dan nilai. Apabila perbedaan-perbedaan latar belakang sosial budaya tidak dijembatani dapat menghidupkan kecenderungan timbulnya pertentangan dan saling tidak menyukai.
3
2. Bimbingan Konseling Antarbudaya
Komunikasi dan penyesuaian diri antar individu yang berasal dari latar belakang budaya yang sama cenderung lebih mudah daripada antar mereka yang berasal dari latar belakang yang berbeda. Karena inti dari proses pelayanan bimbingan dan konseling adalah komunikasi antara klien dan konselor, maka proses pelayanan bimbingan dan konseling yang bersifat antarbudaya (klien dan konselor berasal dari latar belakang budaya yang berbeda) sangat peka terhadap pengaruh dari sumber-sumber hambatan komunikasi seperti tersebut. Perbedaan dalam latar belakang rasa tau etnik, kelas social ekonomi dan pola bahasa menimbulkan masalah dalam hubungan konseling, dari awal pengembangan hubungan yang akrab dan saling mempercayai (rapport) antara klien dan konselor, penstrukturan suasana konseling, sampai peniadaan sikap menolak dari klien. Menurut Sue dkk (1992) konselor yang diharapkan akan berhasil dalam menyelenggarakan konseling antarbudaya adalah mereka yang telah mengembangkan tiga dimensi kemampuan, yaitu dimensi keyakinan dan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang sesuai dengan klien antarbudaya yang akan dilayani. Pelayanan terhadap klien-klien yang berlatar belakang budaya berbeda oleh tenaga (konselor) yang tidak memiliki pemahaman dan kamampuan melayani secara khusus klien-klien antarbudaya itu dianggap tidak etis.
Pelayanan bimbingan dan konseling yang bertujuan mengembangkan kemampuan dan meningkatkan mutu kehidupan serta martabat manusia Indonesia harus berakar pada budaya bangsa Indonesia sendiri. Hal ini berarti bahwa penyelenggaraan bimbingan dan konseling harus dilandasi oleh dan mempertimbangkan keanekaragaman social budaya yang hidup
4
dalam masyarakat, disamping kesadaran takan dinamika social budaya itu menuju masyarakat yang lebih maju.
B. Landasan Ilmiah dan Teknologi
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan professional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang menyangkut teori-teorinya, pelaksanaan kegiatannya, maupun pengembangan-pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan.
1. Keilmuan Bimbingan dan Konseling
Ilmu, sering disebut juga “ilmu pengetahuan”,merupakan sejumlah pengetahuan yang disusun secara logis dan sistematis. Pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui melalui pancaindra dan pengolahan oleh daya pikir. Dengan demikian, ilmu bimbingan dan konseling adalah berbagai pengetahuan tentang bimbingan dan konseling yang tersusun secara logis dan sistematik.Sebagai layaknya ilmu-ilmu yang lain, ilmu bimbingan dan konseling yang mempunyai objek kajiannya sendiri, metode penggalian pengetahuan yang menjadi ruang lingkupnya, dan sistematika pemaparannya.
Objek kajian bimbingan dan konseling ialah upaya bantuan yang diberikan kepada individu yang mengacu kepada keempat fungsi pelayanan yang tersebut terdahulu (fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan,dan pemeliharaan/pengembangan).Segenap hal yang berkenaan dengan upaya bantuan itu (termasuk didalamnya karakteristik individu yang memperoleh layanan, jenis-jenis layanan dan kegiatan, kondisi pelayanan,dan lain-lain) diungkapkan, dipelajari seluk-beluk dan sangkut pautnya, ditelaah latar belakang dan kemungkinan masa depan, dan akhirnya disusun secara logis dan sistematis menjadi paparan ilmu.Cara mengungkapkan pengetahuan tentang bimbingan dan
5
konseling dapat dipergunakan berbagai cara atau metode, seperti pengamatan, wawancara, analisis dokumen (riwayat hidup, laporan perkembangan, himpunan data dan lain-lain), prosedur tes dan inventory, analisis laboratoris. Pelayanan bimbingan dan konseling menekankan pentingnya logika, pemikiran, pertimbangan, dan pengolahan lingkungan secara ilmiah (McDaniel,1956). McDaniel juga mengemukakan bahwa konselor adalah seorang ilmuwan, karena mendasarkan teori, pendekatan, dan tindakan-tindakannya pada kaidah-kaidah keilmuan.
2. Peran Ilmu Lain dan Teknologi dalam Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling, sebagaimana juga pendidikan, merupakan ilmu multireferensial,artinya ilmu dengan rujukan berbagai ilmu yang lain. Sumbangan berbagai ilmu lain itu kepada bimbingan dan konseling tidak hanya terbatas kepada pembentukan dan pengembangan teori-teori bimbingan konseling, melainkan juga kepada praktek pelayanannya.
3. Pengembangan Bimbingan dan Konseling Melalui Penelitian.
Bimbingan dan konseling, baik teori maupun praktek pelayanannya, bersifat dinamis dan berkembang, seiring dengan berkembangnya ilmu-ilmu yang memberikan sumbangan dan seiring pula dengan perkembangan budaya manusia pendukung pelayanan bimbingan konseling. Pengembangan praktek pelayanan bimbingan dan konseling, tidak boleh tidak harus melalui penelitian yang bersifat eksperimen. Dengan demikian melalui pendidikan suatu teori dan praktek bimbingan dan konseling menemukan pembuktian tentang ketepatan dan/atau keefektifan atau keefisienannya di lapangan.
6
C. Landasan Pedagogis
Setiap masyarakat, tanpa terkecuali, senantiasa menyelengggarakan pendidikan dengan berbagai cara dan sarana untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Pendidikan akan ditinjau sebagai landasan bimbingan dan konseling dari tiga segi, yaitu pendidikan sebagai upaya pengembangan manusia dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan pendidikan, pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling, dan pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan pelayanan bimbingan dan konseling.
1) Pendidikan Sebagai Upaya Pengembangan Individu : Bimbingan Merupakan Bentuk Uapaya Pendidikan
Pendidikan ialah upaya memanusiakan manusia. Tanpa pendidikan, bayi manusia yang telah lahir itu tidak akan mampu memperkembangkan dimensi keindividualannya, kesosialannya, kesusilaanya, dan keberagamannya.
Pendidikan dapat diartikan sebagai upaya membudayakan manusia muda. Upaya pembudayaan ini meliputi pada garis besarnya penyiapan manusia muda menguasai alam lingkunganya, memahami dan melaksanakan nilai-nilai dan norma yang berlaku, melakukan peranan yang sesuai, menyelenggarakan kehidupan yang layak, dan meneruskan kehidupan generasi orang tua mereka. Melalui pendidikan manusia muda memperkembangkan diri dan sekaligus mempersiapkan diri dengan potensi yang ada pada diri mereka dan prasarana serta sarana-sarana yang tersedia. Sejalan dengan pandangan tersebut, rakyat dan pemerintah Indonesia, melalui Undang-Undang No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menetapkan pengertian pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
7
Dalam pengertian pendidikan tersebut, secara eksplisit, disebutkan bimbingan sebagai salah satu bentuk upaya pendidikan. Dengan demikian dalam pelayanan bimbingan dan konseling harus terkandung komponen-komponen tersebut, yaitu : Merupakan usaha sadar Menyiapkan peserta didik (dalam hal ini klien) Untuk peranannya di masa yang akan datang (dalam hal ini diwujudkan melalui tujuan-tujuan bimbingan dan konseling yaitu : agar klien-klien lebih mantap dalam keberagamannya, berbudi luhur, berpengetahuan dan berketrampilan yang memadai sesuai dengan kebutuhan kehidupan dan pengembangan dirinya, sehat jasmani dan rohaninya, mandiri serta memiliki tanggung jawab sosial dan kemasyarakatan dan kebangsaan.
2) Pendidikan Sebagai Inti Proses Bimbingan dan Konseling
Ciri yang menandai berlangsungnya upaya pendidikan dalam pelayanan bimbingan dan konseling yaitu peserta didik terlibat di dalamnya menjalani proses belajar, dan kegiatan pembelajaran bersifat normatif. Bimbingan dan konseling mengembangkan proses belajar yang dijalani oleh klien-kliennya, seperti yang ditegaskan oleh Gistod (1953) bahwa bimbingan dan konseling adalah proses orientasi pada belajar, belajar untuk memahami lebih jauh tentang diri sendiri, belajar untuk mengembangkan dan menerapkan secara efektif berbagai pemahaman. Lebih jauh, Nugent (1981) mengemukakan bahwa dalam konseling klien mempelajari ketrampilan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah,tingkah laku, tindakan,serta sikap-sikap baru. Dengan belajar itulah klien memperoleh berbagai hal yang baru bagi dirinya: dengan memperoleh hal-hal baru itulah klien berkembang.
8
3) Pendidikan Lebih Lanjut Sebagai Inti Tujuan Bimbingan dan Konseling
Pendidikan merupakan upaya berkelanjutan. Apabila suatu kegiatan atau program pendidikan selesai, individu tidak hanya berhenti melainkan maju terus dengan kegiatan dan program pendidikan lainnya. Bimbingan dan konseling mempunyai tujuan khusus (jangka pendek) dan tujuan umum (jangka panjang). Menurut Crow & Crow (1990) menyatakan bahwa tujuan khusus yang segera hendak dicapai (jangka pendek) dalam pelayanan bimbingan dan konseling ialah membantu individu memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya, sedangkan tujuan akhir (jangka panjang) ialah bimbingan-diri sendiri ( bimbingan-bimbingan yang telah diberikan oleh konselor hendaknya dapat mengembangkan kemampuan klien untuk mengatasi masalah-masalahnya sendiri tanpa bantuan pelayanan bimbingan dan konseling lagi. Hasil bimbingan yang mampu membuat individu melakukan bimbingan diri sendiri merupakan modal besar tambahan yang akan lebih memungkinkan kesuksesan pendidikan yang akan dijalani oleh individu itu lebih lanjut lagi. Tujuan bimbingan dan konseling, disamping memperkuat tujuan-tujuan pendidikan, juga menunjang proses pendidikan pada umumnya, karena program-program-program bimbingan dan konseling meliputi aspek-aspek tugas perkembangan individu, khususnya yang menyangkut kawasan kematangan pendidikan karir, kematangan personal dan emosional, serta kematangan sosial.
9

BAB III 
PENUTUP
A. Landasan sosial budaya yang mengingatkan bahwa bimbingan dan konseling yang hendak dikembangkan adalah bimbingan adalah bimbingan untuk seluruh rakyat indonesia dengan kebhinekaan budayanya.Oleh sebab itu pelayanan bimbingan seyogianya tidak disamaratakan untuk semua klien dari latar sosial budaya yang berbeda.Bimbingan dan konseling antar budaya yang mengembangkan nilai-nilai,dan aspek-aspek sosial budaya lainnya yang hidup dalam masyarakat bangsa indonesia yang beraneka ragam itu perlu dikembangkan.Sambil tetap mengarahkan perhatian kepada pengembangan kultur kesatuan indonesia, konselor indonesia tetap menghargai dan mempertimbangkan latar belakang sub-kultur klien sebagai suatu yang penting.
B. Landasan ilmiah dan teknologi membicarakan tentang sifat-sifat keilmuan bimbingan dan konseling.Dalam kaitan ini dikemukakan bahwa bimbingan dan konseling adalah suatu ilmu sebagaimana ilmu-ilmu lainnya.Sementara itu,bimbingan dan konseling sebagai ilmu yang multideferensial menerima sumbangan yang besar dari ilmu-ilmu lain dan bidang teknologi.Dengan sumbangan seperti itu bimbingan dan konseling menjadi semakin besar dan kokoh serta selalu dapat mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin pesat.Disamping itu penelitian dalam bidang bimbingan konseling sendiri memberikan bahan-bahan yang segar bagi perkembangan bimbingan dan konseling yang berkelanjutan.
10
C. Landasan pedagogis mengemukakan bahwa antara pendidikan dan bimbingan memang dapat dibedakan, tetapi tidak dapat dipisahkan.Secara mendasar bimbingan dan konseling merupakan salah satu bentuk pendidikan.Proses bimbingan dan konseling adalah proses pendidikan yang menekankan pada kegiatan belajar dan sifat normatif.Tujuan-tujuan bimbingan dan konseling memperkuat tujuan-tujuan pendidikan dan menunjang program-program pendidikan secara menyeluruh.
11

DAFTAR PUSTAKA 
Prayitno&Amti,Erman.2004.Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta : PT.RINEKA CIPTA 


BY MUGI LESTARI