Rabu, 25 Januari 2012


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Generasi muda merupakan salah satu elemen utama penerus dan regenerasi bangsa. Masa muda adalah proses peralihan masa kanak-kanak menuju masa dewasa, suatu masa yang paling menentukan perkembangan manusia di bidang emosional, moral, spiritual, dan fisik. Pada hakekatnya seseorang yang tengah memasuki tahap remaja memiliki karakteristik mental yang tengah labil. Siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) maupun yang berada pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), adalah usia di mana seorang individu yang berada dalam masa atau tahap peralihan. Tak jarang ditemui banyak kaum muda kehilangan pegangan dalam usaha menemukan dirinya. Dalam masa ini kaum muda membutuhkan pendampingan yang intensif dari orang yang lain yang lebih dewasa. Oleh karena itu sangat dibutuhkan layanan bimbingan dan konseling, sebagai pedamping siswa agar tidak salah langkah dalam bersikap dan bertingkah laku.
Namun karena ketidaktahuan siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling disekolah, menyebabkan terjadinya kesalahpahaman. Misalnya BK hanya dianggap polisi sekolah. Kesalahpahaman itu menyebabkan siswa tidak dekat dengan guru BK. Ketidakdekatan itu membuat siswa yang mempunyai masalah merasa malu dan takut untuk menceritakan masalahnya kepada guru BK seorang diri. Oleh karena itu dengan pengenalan layanan konseling kelompok diharapkan dapat mengurangi rasa malu dan takut itu dapat dihilangkan.
2
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang ada dalam latar belakang di atas, ada beberapa rumusan masalah yang perlu dikaji lebih dalam, diantaranya:
a. Bagaimana cara membuat guru dan siswa menjadi dekat, yang pada akhirnya dapat membantu siswa dalam penanganan masalah yang dihadapi oleh siswa.
b. Bagaimana cara pengenalan layanan konseling bagi siswa agar lebih tertarik menggunakan layanan ini?
1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pembuatan makalah ini adalah:
“Siswa tidak malu dan takut lagi menggunakan layanan konseling yang ada di sekolah, sehingga penanganan permasalahan yang dihadapi oleh siswa dapat teratasi dengan proses yang menyenangkan”
1.4 Manfaat
Makalah yang berjudul “Layanan Konseling Kelompok di Sekolah” diharapkan dapat memenuhi manfaat secara teoritis dan praktis.
1.4.1 Manfaat secara teoritis
Menambah wawasan, pengetahuan tentang upaya meningkatkan penanganan permasalahan siswa melalui pengenalan layanan konseling kelompok
1.4.2 Manfaat secara praktis
Dapat memberikan pemahaman tentang proses konseling kelompok, dan dinamika interaksi sosial yang intensif terjadi dalam suasana kelompok akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan sosial pada umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa, serta layanan konseling kelompok dapat merupakan wilayah penjajagan awal bagi siswa untuk memasuki layanan konseling perorangan.
3
BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
2.1.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku (Mugiarso,2009).
Secara etimologis. Istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan kata “menerima” atau “memahami”. Konseling menurut Mugiarso,dkk (2009 : 5) adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh kllien.
Sedangkan menurut Gladding dalam Lesmana (2005 : 4) “Counseling is a relatively short-term, interpersonal, theory-based, professional activity guided by ethical and legal standarts that focuses on helping persons who are basically psychologically healthy to resolve developmental and situational problems”
Jadi bimbingan dan konseling adalah layanan yang diberikan kepada individu guna membantu memecahkan masalah yang dihadapi sehingga individu dapat mengemnbangkan kemampuan dirinya secara optimal.
4
2.1.2 Pengertian Konseling Kelompok
Menurut Latipun (2008 : 178) konseling kelompok (group counseling) merupakan salah satu bentuk konseling dengan memanfaatkan kelompok untuk membantu, memberi umpan balik (feedback) dan pengalaman belajar.
Sedangkan layanan konseling kelompok yang diungkapkan oleh Mugiarso, dkk (2009 : 69) merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok.
2.2 Kesalahpahaman Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Kesalahpahaman tentang bimbingan dan konseling ini sering terjadi di sekolah-sekolah. Hal ini dapat terjadi karena literatur yang memberikan wawasan, pengertian, dan berbagai seluk beluk teori dan praktek bimbingan dan konseling yang dapat memperluas dan mengarahkan pemahaman masih kurang. Adapun beberapa kesalahpahaman dalam BK menurut Prayitno (1999 : 121) yaitu:
1. Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan.
2. Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah.
3. Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasehat.
4. Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat insidental
5. Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu.
6. Bimbingan dan konseling melayani orang sakit dan/atau kurang normal.
7. Bimbingan dan konseling bekerja sendiri.
8. Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif.
9. Menganggap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan siapa saja.
10. Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
5
11. Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater.
12. Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat.
13. Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien.
14. Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya.)
Dari berbagai kesalahpahaman di atas yang paling biasa terjadi di sekolah yaitu konselor yang dianggap sebagai polisi sekolah. Polisi yang bertugas menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin, dan keamanan sekolah serta menghukum semua yang bersalah, baik hukuman fisik maupun hukuman lainnya. Tanggapan inilah yang membuat siswa takut dan tidak mau dekat dengan konselor. Konselor di satu pihak di anggap sebagai “keranjang sampah”, yaitu tempat ditampungnya siswa-siswa yang rusak atau tidak beres, dilain pihak dianggap sebagai “manusia super” yang harus mengetahui dan dapat mengungkapkan hal-hal yang musykil yang melatarbelakangi suatu kejadian atau masalah.
Berdasarkan pandangan di atas, adalah wajar bila siswa tidak mau datang kepada konselor karena menganggap bahwa dengan datang kepada konselor berarti menunjukkan aib, ia mengalami ketidakberesan tertentu. Padahal di sekolah konselor haruslah menjadi teman dan kepercayaan siswa. Disamping petugas-petugas lainnya di sekolah, konselor hendaknya menjadi tempat curahan kepentingan siswa, pencurahan apa yang terasa di hati dan terpikirkan oleh siswa.
2.3 Beberapa Pendekatan Kelompok
Ada beberapa pendekatan-pendekatan kelompok di antaranya sebagai berikut:
1. Psikoterapi Kelompok
6
Psikoterapi kelompok merupakan bantuan yang diberikan oelh psikoterapis terhadap peserta didik untuk mengatasi disfungsi kepribadian dan interpersonalnya dengan menggunakan interaksi emosional dalam kelompok kecil. Psikoterapi ini memfokuskan pada ketidaksadaran dalam menangani peserta didik.
2. Konseling Kelompok
Konseling kelompok merupakan kelompok terapeutik yang dilaksanakan untuk membantu peserta didik mengatasi masalah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Konseling kelompok umumnya ditekankan untuk proses remedial dan pencapaian fungsi-fungsi secara optimal.
3. Kelompok Latihan dan Pengembangan
Kelompok latihan dan pengembangan merupakan pendidikan kesehatan mental dan bukan kelompok terapeutik. Biasanya digunakan untuk melatih sekelompok orang yang berkeinginan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan tertentu.
4. Diskusi Kelompok Terfokus
Diskusi kelompok terfokus (fokus group discusition) merupakan kegiatan diskusi, tukar pikiran beberapa orang mengenai topik-topik khusus yang telah disepakati oleh anggota kelompok. Topik-topik yang dibicarakan menjadi bahan yang diminati dan disepakati oleh anggota kelompok.
5. Self-help
Self-help merupakan forum kelompok yang dijalankan oleh beberapa orang (sekitar 4-8 orang) yang mengalami masalah yang sama, dan mereka berkeinginan untuk saling tukar pikiran dan pengalaman sehubungan dengan cara mengatasi masalah yang dihadapi, dan cara mengembangkan potensinya secara optimal
7
2.4 Manfaat dan Keterbatasan Konseling Kelompok
Pendekatan konseling kelompok ini sangat banyak memberikan manfaat, diantaranya:
a. Membantu siswa memecahkan masalahnya.
b. Dengan interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama berlangsungnya layanan konseling diharapkan tujuan-tujuan layanan (yang sejajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa anggota kelompok) dapat tercapai secara mantap.
c. Dapat merupakan wilayah penjajagan awal bagi siswa untuk memasuki layanan konseling perorangan.
d. Dinamika interaksi sosial yang secara intensif terjadi dalam suasana kelompok akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan sosial pada umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa atau teposliro.
Selain dari manfaat yang dipetik dalam layanan konseling kelompok juga terdapat keterbatasan, yaitu:
a. Setiap siswa perlu berpengalaman konseling individual, baru bersedia memasuki konseling kelompok.
b. Konselor akan menghadapi masalah yang lebih kompleks pada konseling kelompok dan konselor secara spontan harus dapat memberi perhatian kepada anggota kelompok.
c. Kelompok dapat terhenti karena masalah “proses kelompok”. Waktu yang tersedia tidak mencukupi dan membutuhkan waktu yang lebih lama dan ini dapat menghambat perhatian terhadap anggota kelompok.
d. Kekurangan informasi individu yang mana yang lebih baik ditangani dengan konseling kelompok dan mana yang sebaiknya ditangani dengan konseling individual.
e. Seseorang sulit dipercaya kepada anggota kelompok, akhirnya perasaan, sikap, nilai, dan tingkah laku tidak dapat di”bawa” ke situasi kelompok.
8
2.5 Struktur Dalam Konseling Kelompok
Konseling kelompok memiliki struktur yang sama dengan terapi kelompok pada umumnya. Striktur yang dimaksud yaitu menyangkut orang yang terlibat dalam kelompok, jumlah orang yang menjadi partisipan, banyak waktu yang diperlukan, dan sifat kelompok.
1. Jumlah anggota kelompok
Konseling kelompok umumnya beranggota antara 4-12 orang. Bila anggota kelompok kurang dari 4, maka kurang efektif karena dinamika kelompok menjadi kurang hidup. Bila anggota kelompok lebih dari 12 orang akan terlalu berat dalam pengelolaan kelompok.
2. Homogenitas kelompok
Penentuan homogenitas keanggotaan ini disesuaikan dengan keperluan dan kemampuan konselor dalam mengelola konseling kelompok.
3. Sifat kelompok
Sifat kelompok dapat terbuka dan tertutup. Terbuka bila pada suatu saat dapat menerima anggota baru, dan dikatakan tertutup jika keanggotaannya tidak memungkinkan adanya anggota baru. Pertimbangan penggunaan keanggotaan terbuka dan tertutup bergantung pada keperluan.
4. Waktu pelaksanaan
Lama waktu penyelenggaraan konseling kelompok sangat bergantung pada kompleksitas permasalahan yang dihadapi kelompok. Secara umum konseling kelompok yang bersifat jangka pendek (short term group counseling) membutuhkan waktu pertemuan antara 8-20 pertemuan dengan frekuensi pertemuan antara satu sampai tiga kali dalam seminggunya, dan durasinya antara 60-90 menit tiap pertemuan.
2.6 Pedoman Melakukan Konseling Kelompok
Rabichow & Sklansky (1980) mengemukakan pedoman untuk melakukan konseling pada remaja (siswa) secara efektif:
9
a. Pertemuan pertama harus ditandai dengan ekspresi senang saat bertemu dengan remaja (siswa).
b. Karena kebanyakan remaja merasa tidak dipahami oleh orang dewasa, sasaran pertama haruslah membentuk hubungan yang dilandasi rasa percaya dengan cara mendengarkan, menunjukkan respek dan kehangatan, empatik dan jujur.
c. Sejak awal konselor harus dapat menyampaikan adanya harapan untuk tercapainya kepuasan dengan remaja.
d. Pertanyaan mengenai konseling harus dijawab secara langsung dan jujur. Harapan dari klien harus terbuka.
e. Jangan memberikan nasehat bila tidak diminta.
f. Penekanan pada pengembangan konsep diri.
g. Konfrontasi harus dilakukan secara positif, selalu memberi kesempatan kepada remaja untuk “menyelamatkan muka”
2.7 Materi Layanan Konseling Kelompok
Materi layanan konseling kelompok dalam bidang-bidang bimbingan meliputi:
1. Layanan konseling kelompok dalam bidang bidang bimbingan pribadi meliputi penyelenggaraan konselling kelompok yang membahas dan mengentaskan masalah pribadi siswa yaitu berkenaan dengan:
a) Kebiasaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b) Pengenalan dan penerimaan perubahan, pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikis yang terjadi pada diri sendiri.
c) Pengenalan tentang kekuatan diri sendiri, bakat dan minat serta penyaluran dan pengembangannya.
d) Pengenalan tentang kelemahan diri sendiri dan upaya penanggulangannya.
e) Kemampuan mengambil keputusan dan pengarahan diri sendiri
f) Perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat.
10
2. Layanan konseling kelompok dalam bidang bimbingan sosial meliputi penyelenggaraan konseling kelompok yang membahas dan mengentaskan masalah sosial siswa yaitu berkenaan dengan:
a) Kemampuan berkomunikasi serta menerima dan menyampaikan pendapat secara logis, efektif dan produktif.
b) Kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial (di rumah, sekolah, dan masyarakat dengan menjunjung tinggi tata krama, norma dan nilai-nilai agama, adat-istiadat dan kebiasaan yang berlaku).
c) Hubungan dengan teman sebaya (di rumah, sekolah, dan masyarakat)
d) Pemahaman dan pelaksanaan disiplin dan peraturan sekolah.
e) Pengenalan dan pengamalan pola hidup sederhana yang sehat dan bergotong-royong.
3. Layanan konseling kelompok dalam bidang bimbingan belajar meliputi penyelenggaraan konseling kelompok yang membahas dan mengentaskan masalah belajar siswa yaitu berkenaan dengan:
a) Motivasi dan tujuan belajar dan latihan
b) Sikap dan kebiasaan
c) Kegiatan disiplin belajar serta berlatih secara efektif efisien dan produktif.
d) Penguasaan materi pelajaran dan latihan/ketrampilan.
e) Ketrampilan teknis belajar.
f) Pengenalan dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial, dan budaya disekolah dan di lingkungan sekitar.
g) Orientasi belajar di perguruan tinggi.
4. Layanan konseling kelompok dalam bimbingan karir meliputi penyelenggaraan konseling kelompok yang membahas dan mengentaskan masalah karir siswa yaitu berkenaan dengan:
a) Pilihan dan latihan ketrampilan
11
b) Orientasi dan informasi pekerjaan/karir, dunia kerja dan upaya memperoleh penghasilan.
c) Orientasi dan informasi lembaga-lembaga ketrampilan sesuai dengan pilihan pekerjaan dan arah pengembangan karir.
d) Pilihan orientasi dan informasi perguruan tinggi sesuai dengan arah pengembangan karir.
2.8 Tahapan Konseling
Konseling kelompok dilaksanakan secara bertahap yaitu tahap pembentukan kelompok, tahap permulaan, tahap transisi, tahap kerja, tahap akhir, serta tahap evaluasi dan tindak lanjut.
1. Tahap pembentukan kelompok
Tahap ini merupakan tahap persiapan pelaksanaan konseling kelompok. Pada tahap ini terutama pembentukan kelompok dilakukan dengan seleksi anggota dan menawarkan program kepada calon anggota peserta konseling sekaligus membangun harapan kepada calon peserta.
Adapun ketentuan yang mendasari penyelenggaraan konseling jenis ini adalah:
a. Adanya minat bersama (common interest).
b. Suka rela atau atas inisiatif sendiri.
c. Adanya kemauan untuk berpartisipasi di dalam proses kelompok
d. Mampu untuk berpartisipasi di dalam proses kelompok.
2. Tahap permulaan (orientasi dan eksplorasi)
Pada tahap ini mulai menentukan struktur kelompok, mengeksplorasi harapan anggota, anggota mulai belajar fungsi kelompok, sekaligus mulai menegaskan tujuan kelompok. Secara sistematis pada tahap ini langkah yang dilakukan adalah perkenalan, agenda (tujuan yang ingin dicapai) norma kelompok, dan penggalian ide dan perasaan. Jadi tahap permulaan ini anggota memulai menjalin hubungan sesama anggota kelompok.
12
3. Tahap transisi
Pada tahap ini diharapkan masalah yang dihadapi masing-masing klien durumuskan dan diketahui apa sebab-sebaaabnya. Anggota mulai terbuka, tetapi sering terjadi pada fase ini justru terjadi kecemasan, resistensi, konflik, dan bahkan ambivalensi tentang keanggotaannya dalam kelompok, atau enggan jika harus membuka diri. Tugas pemimpin kelompok adalah mempersiapkan mereka bekerja untuk dapat merasa memiliki kelompoknya.
4. Tahap kerja
Jika masalah yang dihadapi oleh masing-masing anggota kelompok diketahui, langkah berikutnya adalah menyusun rencana-rencana tindakan. Penyusunan tindakan ini disebut pula produktivitas (productivity). Kegiatan konseling kelompok terjadi yang ditandai dengan: membuka diri lebih besar, menghilangkan defensifnya, terjadinya konfrontasi antar anggota kelompok, modeling, belajar perilaku baru, terjadi transferensi. Kohesivitas terbentuk, mulai belajar bertanggung jawab, tidak lagi mengalami kebingungan. Anggota merasa berada dalam kelompok, mendengar yang lain dan terpuaskan dengan kegiatan kelompok.
5. Tahap akhir
Anggota kelompok mulai mencoba melakukan perubahan-perubahan tingkah laku dalam kelompok. Setiap anggota kelompok memberi umpan balik terhadap yang dilakukan oleh anggota yang lain. Umpan balik ini sangat berguna untuk perbaikan (jika diperlukan) dan dilanjutkan atau diterapkan dalam kehidupan anggota kelompok jika dipandang telah memadai. Terjadi mentransfer pengalaman dalam kelompok dalam kehidupan yang lebih luas. Jika ada anggota kelompok yang memiliki masalah dan belum terselesaikan. Jika semua peserta merasa puas dengan proses konseling kelompok, maka konseling kelompok dapat diakhiri.
13
6. Tahap evaluasi dan tindak lanjut
Setelah berselang beberapa waktu, konseling kelompok perlu dievaluasi. Tidak lanjut dilakukan ternyata ada kendala-kendala dalam pelaksanaan di lapangan. Mungkin diperlukan upaya perbaikan terhadap rencana-renana semula, atau perbaikan terhadap cara pelaksanaannya.
2.9 Faktor Kuratif
Untuk mencapai maksud dan tujuan konseling, ada elemen yang harus diciptakan dan terjadi selama proses konseling. Elemen tersebut oleh Yalom dalam Latipun (2008) disebut sebagai faktor kuratif. Faktor-faktor kuratif ini terdiri dari:
1. Membina harapan
Membina harapan berarti anggota kelompok merasa optimis terhadap kemajuaanya, atau berpotensial untuk lebih baik melalui konseling kelompok.
2. Universalitas
Universalitas bermakna anggota kelompok mengerti bahwa masalah yang dialami tidak sendirian.
3. Pemberian informasi
Klien (siswa) mendapatkan informasi dan bimbingan dari konselor anggota kelompok lainnya tentang pemecahan masalahnya atau hal-hal lain yang bermakna bagi kebaikan dirinya.
4. Altruisme
Bersamaan dengan keadaannya yang lebih baik dan merasa banyak belajar dari kegiatan konseling kelompok, terus membantu anggota lain mengatasi masalahnya. Oleh karena itu, dia juga mendorong, memberikan komentar dan berpendapat atau memberi nasihat kepada anggota yang lainnya. Merasa dibutuhkan dan dapat diminta bantuan dan menyadari bahwa dirinya dapat mendukung keperluan anggota lainnya.
14
5. Pengulangan korektif keluarga primer
Klien (siswa) menganggap konselor dan ko-konselor sebagai orang tua dan anggota kelompok yang lain sebagai saudara. Klien (siswa) berusaha memperoleh perhatian khusus seperti anak kecil dari konselor dan anggota kelompok lainnya, dan dia belajar mencoba perilaku baru dalam berhubungan dengan orang lain.
6. Pengembangan teknik sosialisasi
Klien (siswa) belajar berhubungan dengan orang lain, termasuk belajar memperoleh umpoan balik dari anggota lain untuk perbaikan dirinya. Sekaligus dia belajar menyelesaikan konflik-konflik, mau mengerti dan memahami orang lain, serta menciptakan rasa tenggang rasa dengan anggota kelompok.
7. Peniruan tingkah laku
Klien (siswa) mengalami sesuatu yang bermakna tentang dirinya melaui observasi terhadap anggota yang lain termasuk konselor. Mengidentifikasi sejumlah tingkah laku baik pada konselor maupun anggota lainnya untuk dicontoh.
8. Belajar menjalin hubungan interpersonal
Klien (siswa) mencoba sesuatu yang baru yaitu dengan cara memulai berperilaku positif dalam berhubungan dengan anggota kelompok, yang dilakukan dengan beberapa hal, diantaranya: mengekspresikan dirinya kepada anggota yang lain untuk menjelaskan hubungan dirinya dengan mereka, atau membuat eksplisit usaha-usaha dalam menjalin hubungan dengan anggota yang lainnya.
9. Kohesivitas kelompok
Klien (siswa) merasa memiliki dan diterima oleh anggota kelompok, secara terus-menerus menjalin kontak dengan anggota kelompok, merasa tidak nyaman jika sendirian. Anggota kelompok akan berusaha untuk berinteraksi, memberi umpan balik, dan membina hubungan dengan anggota lain.
15
10. Katarsis
Klien (siswa) melepaskan perasaannya yang positif maupun yang negatif kepada anggota kelompok lain, yang menyangkut perasaan masa lalunya atau saat ini, mengekspresikan perasaan seperti marah, cintanya, dan kesedihannya, yang mungkin sebelumnya kesulitan atau tidak memungkinkan diungkapkan.
11. Faktor-faktor eksistensial
Klien (siswa) menyadari tentang eksistensi hidup, ada hidup sekaligus kematian, ada dan perlu tanggung jawab, mengurusi hal-hal yang sepele tetapi bermakna bagi kehidupannya, dan kesemuanya itu didiskusikan dengan anggota kelompok yang lain sehingga diperoleh makna hidup.
2.10 Peran Konselor, Ko-Konselor, Dan Klien
2.11.1 Peran konselor
Peran konselor dalam konseling kelompok berperan sebagai pemimpin kelompok. Tugas konselor dalam pemimpin kelompok adalah melakukan pemeliharaan, pemrosesan, penyaluran, dan arahan.
Peran pemeliharaan (providing), berarti konselor berperan sebagai pemelihara hubungan dan ikllim, yang dilakukan sesuai dengan ketrampilannya dalam memberikan: dorongan, semangat, perlindungan, kehangatan, penerimaan, ketulusan, dan perhatian.
Peran pemrosesan (processing), berarti konselor sebagai pihak yang memberi penjelasan makna proses, yang dilakukan sesuai dengan ketrampilannya dalam memberikan eksplanasi, klarifikasi, interpretasi, dan memberikan kerangka kerja untuk perubahan atau mewujudkan perasaan dan pengalamannya ke dalam gagasannya.
Peran penyaluran (catalyzing) adalah peran konselor sebagai pihak mendorong interaksi dan mengekspresikan emosi
16
melalui ketrampilannya dalam menggali perasaan, manantang, mengkonfrontasi, menggunakan program kegiatan seperti pengalaman terstruktur, dan pemberian model.
Peran pengarahan (directing) adalah peran konselor dalam hal mengarahkan proses konseling dengan ketrampilannya dalam membatasi topic, peran, norma, dan tujuan, pengaturan waktu, langkah, menghentikan proses, menengahi, dan menegaskan prosedur.
2.11.2 Peran Ko-Konselor
Ko-konselor adalah orang yang membantu konselor menjalankan perannya sebagai pimpinan kelompok. Adapun peran ko-konselor lainnya, di antaranya sebagai berikut:
1. Membantu konselor mengamati dan mencatat dinamika yang terjadi di kelompok, sehingga lebih dimengerti keadaan kelompok dan anggota-anggotanya.
2. Sebagai model interaksiyang sehat, termasuk model dalam memberikan tanggapan, kritik, atau pengungkapan diri secara tepat.
3. Membantu memperjelas pertanyaanyang dikemukakan oleh konselor.
4. Sebagai model bagi klien (siswa), terutama dalam hal penolakan atau ketidaksetujuannya terhadap perilaku dedustruktif.
Dalam penentuan ko-konselor perlu mempertimbangkan jenis kelamin, pengalaman, dan sikap keterbukaannya. Memilih ko-konselor dari jenis kelamin yang berlawanan dapat mendekatkan suasana konseling kelompok dengan situasi di keluarga.
Pertimbangan pengalaman mempunyai maksud bahwa ko-konselor lebih yunior dibandingkan dengan konselor. Dengan adanya tingkat pengalaman yang berbeda konselor dan ko-
17
konselor, proses konseling dapat lebih baik, karena ko-konselor akan mengikuti mekanisme yang dijalankan konselor.
2.11.3 Peran klien
peran klien (siswa) dalam konseling kelompok, yaitu:
1. Membantu terbinanya suasana keakraban dalam hubungan antar anggota kelompok.
2. Mencurahkan segenap perasaan dalam melibatkan diri dalam kegiatan kelompok.
3. Berusaha agar apa yang dilakukannya itu membantu tercapainya tujuan bersama.
4. Membantu tersusunnya aturan kelompok dan berusaha mematuhinya.
5. Berusaha secara aktif ikut serta dalam seluruh kegiatan kelompok.
6. Berkomunikasi secara terbuka.
7. Berusaha membantu anggota lain.
8. Memberi kesempatan kepada anggota lain untuk menjalankan perannya.
9. Menyadari pentingnya kegiatan kelompok.
2.11 Proses Kelompok dan Perilaku Anggota
Proses kelompok dimaksudkan sebagai gambaran tentang interaksi yang terjadi dan teramati di antara anggota dalam aktivitas konseling kelompok. Biasanya dalam proses kelompok secara bertahap akan terjadi kohesivitasnya, partisipasi, interaksi interpersonal di antara anggota. Dalam konseling kelompok proses-proses tersebut terjadi jika terbentuk saling percaya diantara mereka berkat iklim yang dibangun oleh konselor.
Proses kelompok dapat juga menimbulkan “kejadian-kejadian” interaksional yang tidak diharapkan di antara anggota kelompok, diantaranya sebagai berikut:
18
1. Konflik. Pertentangan antar anggota kelompok dapat terjadi jika ada anggota kelompok yang tidak menerima kritik dan umpan balik dari anggota lain.
2. Kecemasan. Anggota yang memiliki perasaan rendah diri merasa cemas jka harus menyatakan diri secara terbuka di depan anggota lain.
3. Penarikan diri. Sebagian anggota merasa kurang berguna mengikuti konseling kelompok.
4. Tranferensi. Anggota kelompok melimpahkan pengalaman-pengalaman masa lalunya kepada konselor atau kepada anggota kelompok lain.
5. Dominasi. Sebagian anggota kelompok dapat menguasai pembicaraan sementara lainnya tidak diberikan kesempatan untuk berbicara atau memberikan umpan balik.
Untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut konselor berupaya untuk membuat dinamika kelompok berjalan, mengatur pembicaraan, mencegah terjadinya pertentangan antar anggota, dan berusaha agar meningkatkan saling pengertian satu dengan lainnya.
2.12 Interaksi Dalam Kelompok
Interaksi dalam kelompok sangat beragam polanya. Interaksi dapat terjadi seorang memberi perhatian kepada anggota kelompok, seorang anggota memberi perhatian kepada seorang anggota kelompok lain.
Dalam konseling kelompok yang dikembangkan adalah dinamika di mana konselor memberi perhatian kepada semua anggota kelompoknya, demikian pula setiap anggota kelompok (klien) saling memberi perhatian satu sama lain. Dengan demikian pola hubungan yang diciptakan adalah hubungan yang setara sesama klien (anggota kelompok) dan konselor membantu dalam mengelola dinamika kelompok.
19

BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kekurangtahuan siswa terhadap layanan bimbingan dan konseling disekolah, menyebabkan terjadinya kesalahpahaman. Misalnya BK hanya dianggap polisi sekolah. Kesalahpahaman itu menyebabkan siswa tidak dekat dengan guru BK. Ketidakdekatan itu membuat siswa yang mempunyai masalah merasa malu dan takut untuk menceritakan masalahnya kepada guru BK seorang diri. Oleh karena itu dengan pengenalan layanan konseling kelompok diharapkan dapat mengurangi rasa malu dan takut itu dapat dihilangkan.
Layanan konseling kelompok juga memberikan banyak manfaat. Dinamika interaksi sosial yang intensif terjadi dalam suasana kelompok akan meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan sosial pada umumnya, meningkatkan kemampuan pengendalian diri, tenggang rasa, serta layanan konseling kelompok dapat merupakan wilayah penjajagan awal bagi siswa untuk memasuki layanan konseling perorangan.
3.2 Saran
Membuat siwa mengungkapkan permasalahannya merupakan bukan sesuatu yang mudah. Untuk itu seorang konselor hendaknya lebih memahami karakteristik dan kebutuhan siswanya.
20


DAFTAR PUSTAKA
Latipun. 2008. Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
Lesmana, Jeanette Murad. 2005. Dasar-Dasar Konseling. Jakarta. UI Press.
Mugiarso, Heru, dkk. 2009. Bimbingan dan Konseling. Semarang. UNNES Press.
Prayitno dan Amti, Erman. 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Rabichow, H. & Sklansky, M. 1980. Effective Counseling of Adolescents. Chicago: Follett.

BIMBINGAN DAN KONSELING

A. BENTUK BIMBINGAN
1. Bimbingan individual atau perseorangan
Bimbingan individual terutama disalurkan melalui layanan konseling bila seorang siswa berhadapan muka dengan konselor untuk membicarakan suatu masalah. Masalah yang dihadapi oleh klien dicermati dan diupayakan pengentasannya, sedapat-dapatnya dengan kekuatan klien sendiri.
Di dalam lingkup layanan bimbingan dan konseling diharapkan tercipta hubungan pribadi yang terbuka dan dinamis antara klien dan konselor yang ditandai dengan adanya kehangatan, kebebasan dan suasana yang memperkenankan klien menampilkan diri sebagaimana adanya.
2. Bimbingan kelompok
Bimbingan kelompok dapat terlaksana dengan berbagai cara, misalnya dibentuk kelompok kecil dalam rangka layanan konseling. Dalam layanan konseling kelompok masalah pribadi setiap anggota kelompok dibicarakan melalui dinamika, tujuannya agar anggota kelompok yang bermasalah itu dapat terentaska. Kelompok diajak bersama-sama mengungkapkan pendapat tentang topik-topik yang dibicarakan dan mengembangkan bersama permasalahan yang dibicarakan pada kelompok. Sehingga terjadi komunikasi antar individu di kelompoknya kemudian siswa dapat mengembangkan sikap dan tindakan yang diinginkan dapat terungkap di kelompok.

B. SIFAT BIMBINGAN
Sifat-sifat bimbingan adalah
1. perseveratif atau developmental bila tujuan utamanya adalah mendampingi siswa supaya perkembangannya berlangsung seoptimal mungkin.
2. Bimbingan preventif bila tujuan utamanya adalah membekali siswa agar lebih siap menghadapi tantangan-tantangan dimasa datang dan dicegah timbul masalah yang serius dikemudian hari.
3. Bimbingan korektif atau penyembuhan bilamana tujuan utama adalah membantu siswa dalam mengoreksi perkembangan yang mengalami salah jalur. Bimbingan pemeliharaan bilamana ditujukan sebagai kelanjutan dari bimbingan korektif.

C. RAGAM BIMBINGAN
a. Bimbingan Studi (Academic Guidance)
Bimbingan akademik (belajar) ialah bimbingan dalam hal membantu siswa mengembangkan diri sikap dan kebiasaan belajar yang baik untuk menguasai pengetahuan dan ketrampilan serta menyiapkan melanjutkan pendidikan pada tingkat yang lebih tinggi. Suatu program bimbingan di bidang belajar (akademik) akan memuat unsur-unsur sebagai berikut:
1. Orientasi kepada siswa baru tentang tujuan institusional, isi kurikulum, pengajaran, struktur organisasi sekolah, cara-cara belajar yang tepat.
2. Pemantapan sikap dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar, bersikap terhadap guru dan nara sumber lainnya, mengembangkan ketrampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas pelajaran dan menjalani program penilaian hasil belajar.
3. Pemantapan disiplin belajar dan berlatih, baik secara mendiri maupun kelompok.
4. Bantuan dalam hal memilih program studi yang sesuai, memilih kegiatan-kegiatan non-akademik yang menunjang usaha belajar, dan memilih program studi lanjutan di tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan lain-lain.
5. Pemantapan penguasaan materi program belajar di sekolah sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi dan kesenian.
6. Pemantapan pemahaman dan pemanfaatan kondisi fisik, sosial dan budaya yang ada di sekolah, lingkungan sekitar dan masyarakat pengembangan pengetahuan dan kemampuan serta pengembangan pribadi.
b. Bimbingan Pribadi
Bimbingan pribadi dalam pelayanan bimbingan dan konseling ditujukan untuk membantu menemukan peserta didik atau individu dan mengembangkan pribadiyang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mantap, mandiri, serta sehat jasmani dan rohani. Dalam bimbingan ini terkandung unsur-unsur, yaitu :
1. Pemantapan sikap dan kebiasaan serta pengembangan wawasan dalam beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2. Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyalurandan pengembangannya melalui kegiatan yang kreatif dan produktif.
3. Pemahaman tentnag kekurangan atau kelemahan diri dan usaha untuk penanggulangannya.
4. Pemantapan kemampuan mengambil keputusan.
5. Pemantapan kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya.
6. Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat, baik secara rohaniah maupun jasmani.
c. Bimbingan Sosial
Dalam bidang bimbingan sosial pelayanan bimbingan dan konseling membantu individu mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan. Dalam program bimbingan sosial terdapat unsure-unsur :
1. Pemantapan kemampuan berkomunikasi baik melalui ragam lisan maupun tulisan secara efektif.
2. Pemantapan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta berargumentasi secara dinamis, kreatif , dan produktif.
3. Pemantapan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial baik di rumah, di sekolah, maupun masyarakat luas dengan menjunjung tinggi tata krama, sopan santun serta norma-norma yang berlaku.
4. Pemantapan hubungan yang dinamis, harmonis dan produktif dengan teman sebaya baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat pada umumnya.
5. Pemantapan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah serta upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab.
6. Orientasi tentang hidup berkeluarga.
d. Bimbingan karir
Bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan masalah karir untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya, baik pada waktu itu maupun pada masa yang akan datang. Bimbingan karir bukan hanya memberikan bimbingan jabatan, tetapi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu membantu peserta didik dalam merencanakan, dan mengembangkan masa depan karir serta mempersiapkan diri dari kehidupan sekolah ke dunia kerja.
Program dalam bimbingan karir dapat dirinci sebagai berikut :
1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang hendak dikembangkan.
2. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya, dan karir yang hendak
dikembangkan pada khususnya.
3. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
4. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak dikembangkan.

By Mugi Lestari

HAKEKAT BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Pengertian
Bimbingan dan konseling merupakan terjemahan dari istilah “Guidance and Counseling” dalam bahasa Inggris. Dari berbagai yang dikemukakan oleh para ahli, pada prinsipnya bimbingan mengandung berbagai unsur pokok sebagai berikut :
1. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan.
2. Bimbingan merupakan proses membantu inddividu.
3. Bantuan dalam bimbingan diberikan kepada individu, baik perorangan maupun kelompok.
4. Bantuan dalam bimbingan diberikan kepada semua orang tanpa terkecuali.
5. Bantuan yang diberikan bertujuan agar individu dapat mengembangkan dirinya secara optimal yang mandiri.
6. Untuk mencapai tujuan bimbingan, digunakan pendekatan pribadi dengan menggunakan berbagai teknik dan media bimbingan.
7. Bimbingan diberikan oleh orang-orang yang ahli, yaitu orang-orang yang memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam bidang bimbingan.
8. Bimbingan dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Berdasarkan butir-butir pokok tersebut maka yang dimaksud dengan bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seorang atau beberapa individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa, agar orang yang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa Latin, yaitu “consiliun” yang berarti “dengan” atau ”bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau ”memahami”. Pada dasarnya rumusan definisi atau pengertian konseling mengandung hal-hal pokok sebagai berikut :
1. Konseling melibatkan dua orang yang saling berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan seksama isi pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan-gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat di dalam interaksi itu.
2. Interaksi antara klien dan konselor berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan terarah pada pencapaian tujuan. Berlaina dengan pembicaraan biasa.
3. Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan pada tingkah laku klien, yaitu perubahan klien kea rah yang lebih baik, teratasinya masalah yang sedang dihadapi klien.
4. Model interaksi di dalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dank lien saling berbicara.
5. Konseling merupakan proses yang dinamis, artinya individu klien dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh klien.
6. Konseling didasari atas penerimaan-penerimaan konselor secara wajar tentang diri klien, yaitu atas dasar penghargaan terhadap harkat dan martabat klien.
Atas dasar cirri-ciri pokok tersebut di atas, yang dimaksud dengan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui pelayanan konseling oleh seorang ahli (yang disebut konselor) kepada
individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh klien.

B. Tujuan
Bimbingan dan konseling memiliki dua tujuan yaitu :
1. Tujuan Umum
Tujuan umum bimbingan dan konseling dengan mengikuti pada perkembangan konsepsi bimbingan dan konseling pada dasarnya adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predispososi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasarnya dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini, maka bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang memiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian, dan ketrampilan yang tepat berkenaan dengan diri sendiri dan lingkungannya (Prayitno,1999:114).
Pencapaian tujuan umum bimbingan dan konseling tersebut dalam rangka pengembangan perwujudan keempat dimensi kemanusiaan individu. Dimensi maksudnya sebagai sesuatu yang secara hakiki ada pada manusia di satu segi dan di segi lain sebagai sesuatu yang dapat dikembangkan. Empat dimensi kemanusiaan individu yaitu : dimensi keindividualan (individualitas), dimensi kesosialan (sosialitias), dimensi kesusilaan (moralitas), dan dimensi keberagaman (religiusitas).
Pengembangan dimensi keindividualan memungkinkan seseorang memperkembangkan segenap potensi yang ada pada dirinya secara optimal mengarah kepada aspek-aspek kehidupan yang positif.
Perkembangan dimensi kesosialan memungkinkan seseorang mampu berinteraksi, berkomunikasi, bergaul, bekerjasama dan hidup bersamaorang lain.
Dimensi kesusilaan memberikan warna moral terhadap perkembangan dimensi keindividualan dan kesosialan. Norma , etika dan berbagai ketentuan yang berlakumengatur bagaimana kebersamaan antara individu seharusnya dilaksanakan.
Dimensi yang keempat yaitu dimensi keagamaan. Dalam dimensi keagamaan ini, manusia senatiasa menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Manusia tidak terpukau dan terpaku pada kehidupan dunia saja, melainkan mengaitkan secara serasi, selaras, dan seimbang kehidupan dunianya itu dengan kehidupan akhirat.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujuan umum tersebut yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannya itu. Masalah yang dihadapi individu sangat berragam, memiliki intensitas yang berbeda-beda serta bersifat unik. Dengan demikian maka tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk tiap-tiap individu bersifat unik pula, artinya tujuan bimbingan dan konseling untuk individu yang satu dengan individu lain yang tidak boleh disamakan.

C. Hubungan Persamaan dan Perbedaan Bimbingan dan Konseling
1) Persamaan
Persamaannya terletak pada tujuan yang hendak dicapai, yatiu sama-sama berusaha untuk memandirikan individu, sama-sama
diterapkan dalam program persekolahan, dan sama-sama mengikuti norma-norma yang berlaku di lingkungan masyarakat tempat kedua kegiatan itu diselenggarakan.
Jadi hubungan persamaannaya bimbingan merupakan satu kesatuan dengan konseling yang mana konseling berada dalam kesatuan bimbingan tersebut.
2) Perbedaan
Perbedaan bimbingan dan konseling terletak pada segi isi kegiatan dan tenaga yang menyelenggarakan. Dari segi isi, bimbingan lebih banyak menyangkut pada usaha pemberian informasi dan kegiatan pengumpulan data tentang siswa dan lebih menekankan pada fungsi pencegahan.Sedangkan konseling merupakan bantuan yang dilakukan dalam pertemuan tatap muka antara dua orang manusia yaitu antara konselor dan klien.
Dari segi tenaga, bimbingan dapat dilakukan oleh orang tua, guru, wali kelas, kepala sekolah, dan orang dewasa lainnya kepada individu (siswa) yang memerlukannya. Karena sifat dan kegiatannya yang khas, konseling hanya dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah terdidik dan terlatih.
Jadi hubungan perbedaan antara bimbingan dan konseling dapat dikatakan bahwa konseling merupakan bentuk khusus dari bimbingan, yaitu suatu layanan yangdiberikan oleh konselor kepada klien secara individu.

D. Orientasi Bimbingan dan Konseling
a. Orientasi Perseorangan
Orientasi perorangan bimbingan dan konseling konselor menitikberatkan pada pandangan secara individual. Pemahaman konselor terhadap kondisi keseluruhan (kelompok) siswa hanya merupakan konfigurasi (bentuk keseluruhan) dampak positif dan negatifnya atau pengaruh terhadap siswa secara individual.
b. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan dalam bimbingan dan konseling lebih menekankan pentingnya peranan perkembangan yang terjadi pada saat sekarang dan yang akan terjadi pada diri individu di masa yang akan datang. Keseluruhan proses perkembangan itu menjadi perhatian bimbingan dan konseling. Permasalahan yang dihadapi oleh individu diartikan sebagai terhalangnya perkembangan, dan ini mendorong konselor dan klien bekerjasama untuk menghilangkan penghalang itu serta mempengaruhi lajunya perkembangan klien.
c. Orientasi Permasalahan
Dalam kaitannya dengan fungsi-fungsi bimbingan dan konseling, orientasi masalah secara langsung berkaitan dengan fungsi pencegahan dan fungsi pengentasan. Fungsi pencegahan menghendaki agar individu terhindar dari masalah-masalah, sedangkan fungsi pengentasan menghendaki agar individu yang mengalami masalah dapat terentaskan masalahnya. Fungsi-fungsi lainnya yaitu fungsi pemahaman dan fungsi pemeliharaan/pengembangan pada dasarnya juga bersangkut paut dengan permasalahan diri pada diri klien. Fungsi pemahaman memungkinkan individu memahami berbagai informasi dan aspek lingkungan agar terhindar dari masalah. Fungsi pemeliharaan dapat mengarahkan individu agar tercegahnya ataupun terentaskannya masalah-masalah tertentu.

E. Ruang Lingkup Bimbingan dan Konseling
1 Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah
a. Keterkaitan antara Bidang Pelayananan Bimbingan Konseling dan Bidang-Bidang Lainnya.
1) Bidang kurikulum dan pengajaran
Pelayanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan terhadap pengajaran, contohnya membantu siswa mengatasi masalah siswa yang dapat mengganggu proses belajar mengajar agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan efektif, dan materi layanan bimbingan dan konseling dapat dimanfaatkan oleh guru untuk penyesuaian pengajaran sesuai dengan individualitas siswa. Sebaliknya bidang kurikulum dan pengajaran merupakan lahan yang efektif bagi terlaksananya di dalam praktek materi-materi layanan bimbingan dan konseling.
2) Bidang administrasi dan supervisi
Dalam bidang ini, bimbingan dan konseling dapat memberikan sumbangan yang berarti, misalnya dalam kaitannya dengan penyusunan kurikulum, pengembangan program-program pengajaran, pengambilan kebijakan yang tepat dalam rangka penciptaan iklim yang benar-benar menunjang bagi pemenuhan kebutuhan dan perkembangan siswa. Sebaliknya melalui bidang administrasi dan supervisi dengan berbagai layanan kebijakan dan pengaturan yang menghasilkan kondisi yang memungkinkan berjalannya layanan-layanan bimbingan dan konseling secara optimal, sehingga segenap fungsi-fungsi dan jenis layanan serta kegiatan bimbingan dan konseling dapat terlaksana dengan lancar dan mencapai sasaran.
3) Bidang bimbingan dan konseling
Bidang ini meliputi berbagai fungsi dan kegiatan yang mengacu kepada pelayanan kesisiwaan secara individual agar masing-masing peserta didik dapat berkembang sesuai dengan bakat, minat, potensi, dan tahap-tahap perkembangannya. Dalam bidang bimbingan dan konseling tersebut diwujudkanlah segenap fungsi-fungsi bimbingan dan konseling melalui berbagai layanan dan kegiatan. Konselor dengan kemampuan profesionalnya mengisi bidang tersebut sepenuhnya dengan bekerja sama dengan berbagai pihak yang dapat menunjang pencapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling.
b. Tanggung Jawab Konselor Sekolah
Dalam menjalankan tugasnya itu konselor sekolah memiliki dan mewujudkan tanggung jawabnya kepada siswa, orang tua, sejawat, masyarakat, diri sendiri, dan profesi.
2 Pelayanan Bimbingan dan Konseling di Luar Sekolah
Warga masyarakat yang memerlukan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya yang berada di lingkungan sekolah atau pendidikan formal saja. Warga masyarakat di luar sekolah pun banyak mengalami masalah yang perlu dientaskan dan mencegah timbulnya masalah.
a. Bimbingan konseling keluarga
Keluarga merupakan satuan persekutuan hidup yang paling mendasar dan pangkal kehidupan bermasyarakat, dari dan di keluarga inilah setiap individu dipersiapkan untuk menjadi warga masyarakat yang normatif.
Konselor diharapkan mampu menjembatani program bimbingan dan konseling di sekolah dengan kebutuhan keluarga dalam pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor sekolah
hendaknya mampu mensinkronisasikan secara harmonis pemenuhan kebutuhan anak di sekolah dan di rumah pada satu segi; serta fungsi keluarga terhadap anak pada segi lainnya.
b. Bimbingan dan konseling dalam lingkungan yang lebih luas
Permasalahan yang dialami oleh individu tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah dan keluarga saja, contohnya dalam lingkungan kerja (seperti dalam lingkungan perusahaan, kantor-kantor, dan lain-lain), dalam organisasi pemuda, organisasi masyarakat, dan bahkan lembaga permasyarakatan. Dalam lingkungan yang lebih luas, konselor akan berada di berbagai lingkungan, selain di sekolah dan di dalam keluarga, juga di tempat-tempat yang sekarang agaknya belum terjangkau pekerjaan profesional bimbingan dan konseling.

F. Kesalahpahaman Tentang Bimbingan dan Konseling
Kesalahpahaman dapat terjadi karena belum ada kesepakatan mengenai istilah bimbingan/penyuluhan dan konseling, dan dalam pelayanan bimbingan dan konseling mengingat dalam waktu yang tidak relatif lama telah tersebar luas, terutama di sekolah-sekolah, di seluruh pelosok tanah air.
Kesalahpahaman tersebut perlu dicegah penyebarannya dan diluruskan agar gerakan pelayanan bimbingan dan konseling dapat berjalan dan berkembang dengan baik dan sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan dan praktek penyelenggaraannya. Kesalahpahaman yang sering dijumpai sebagai berikut :
1 Bimbingan dan konseling disamakan saja dengan atau dipisahkan sama sekali dari pendidikan
2 Konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah
3 Bimbingan dan konseling dianggap semata-mata sebagai proses pemberian nasihat
4 Bimbingan dan konseling dibatasi pada hanya menangani masalah yang bersifat incidental
5 Bimbingan dan konseling dibatasi hanya untuk klien-klien tertentu saja
6 Bimbingan dan konseling melayani “orang sakit” dan/atau “kurang normal”
7 Bimbingan dan konseling bekerja sendiri
8 Konselor harus aktif, sedangkan pihak lain pasif
9 Mengangap pekerjaan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa saja
10 Pelayanan bimbingan dan konseling berpusat pada keluhan pertama saja.
11 Menyamakan pekerjaan bimbingan dan konseling dengan pekerjaan dokter atau psikiater
12 Menganggap hasil pekerjaan bimbingan dan konseling harus segera dilihat
13 Menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien
14 Memusatkan usaha bimbingan dan konseling hanya pada penggunaan instrumentasi bimbingan dan konseling (misalnya tes, inventori, angket, dan alat pengungkap lainnya)
15 Bimbingan dan konseling dibatasi dengan pada hanya menangani masalah-masalah yang ringan saja

BY MUGI LESTARI

FUNGSI BIMBINGAN DAN KONSELING

Paparan yang membahas tentang fungsi, dapat menambah pemahaman yang berkaitan dengan manfaat atau kegunaan dan keuntungan-keuntungan pe-nyelenggaraan bimbingan dan konseling. Empat fungsi bimbingan dan konseling yaitu :

A. Fungsi pemahaman
Dengan fungsi ini memungkinkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan peningkatan perkembangan dan kehidupan klien (yaitu klien sendiri, dan konselor, dan pihak ketiga) memahami berbagai hal yang essensial berke-naan dengan perkembangan dan kehidupan klien.
Pemahaman yang sangat diperlukan dalam bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya oleh klien sen-diri dan oleh pihak-pihak yang akan membantu klien serta pemahaman ling-kungan diri klien.
a. Pemahaman tentang klien
Pemahaman tentang diri klien merupakan titik awal upaya pembe-rian bantuan terhadap klien. Pemahaman tentang klien maksudnya tidak hanya sekedar mengenal diri klien, melainkan pemahaman yang me-nyangkut latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahan, serrta kondisi lingkngannya. Materi pemahaman dikelompokkan ke dalam ber-bagai data tentang :
1. Identitas individu (klien)
2. Pendidikan
3. Status perkawinan(bagi klien dewasa)
4. Status sosial-ekonomi dan pekerjaan
5. Kemampuan dosen (intelegensi) bakat, minat, hobi
6. Kesehatan
7. Kecenderungan sikap dan kebiasaan
8. Cita-cita pendidikan dan pekerjaan
9. Keadaan lingkungan tempat tinggal
10. Kedudukan dan prestasi yang pernah dicapai
11. Kegiatan sosial kemasyarakatan
Untuk individu-individu yang masih mengikuti jenjang pendidikan tertentu perlu ditambahkan :
12. Jurusan/prodi yang diiikuti
13. Mata pelajaran yang diambil, nilai-nilai yang diperoleh dan prestasi menonjol yang pernah dicapai
14. Kegiatan ekstrakurikuler
15. Sikap dan kebiasaan belajar
16. Hubungan dengan teman sebaya
Adapun pihak lain yang juga perlu memahami diri klien adalah pi-hak-pihak yang berkepentingan (guru, orang tua). Pemahaman pihak lain terhadap klien dipergunakan oleh konselor secara langsung untuk meme-beri pelayanan bimbingan dan konseling, maupun sebagai acuan utama da-lam rangka kerjasama dengan pihak-pihak lain dalam membantu klien.
b. Pemahaman tentang masalah klien
Pemahaman terhadap masalah klien membantu konselor dalam memberikan penanganan masalah. Pemahaman tentang masalah klien teru-tama menyangkut jenis masalahnya, itensitasnya, sangkut-pautnya, sebab-sebabnya,dan kemungkinan berkembangnya(kalau segera diatasi). Pema-haman masalah oleh individu sendiri merupakan modal dasar bagi peme-cahan masalah tersebut. Pemahaman masalah siswa sama bergunanya dengan pemahaman tentang individu pada umumnya oleh orang tua dan guru sebagaimana telah dikemukakan yaitu untuk kepentingan berkenaan dengan pelayanan dan perhatian orang tua terhadap anak.
c. Pemahaman tentang lingkungan yang “lebih luas”
Pemahaman terhadap individu tidak hanya mencakup pemahaman terhadap lingkungan dalam arti sempit (seperti keadaan rumah tempat tinggal, keadaan sosio-ekonomi, dan sosio emosional keluarga, keadaan hubungan antar tetangga dan teman sebaya), tetapi termasuk pemahaman terhadap lingkungan yang lebih luas yaitu diperolehnya berbagai informasi
yang diperlukan oleh individu seperti informasi pendidikan dan jabatan, informasi promosi dan endidikan lebih lanjut, bagi para karyawan, dan lain sebagainya.
Para siswa perlu memahami dengan baik lingkungan sekolah yang meliputi lingkungan fisik,berbagai hak dan tanggungjawab siswa terhadap sekolah,disiplin yang harus dipatuhi oleh siswa, aturan-aturan yang me-nyangkut kurikulum,pengajaran, penilaian, kenaikan kelas,hubungan guru dan sesama siswa,kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh seko-lah,dsb.
Pemahaman oleh klien tentang lingkungan yang “lebih luas” perlu dikembangkan oleh pelayanan bimbingan dan konseling. Pemahaman ten-tang hal itu akan terasa manfaatnya apabila dihubungkan dengan permasa-lahan yang dialami klien, baik secara individu maupun kelompok.Konselor perlu menyusun program yang lebih luas untuk pemahaman yang dimak-sud itu,kerjasama antara konselor dan pihak-pihak lain sangat diperlukan.

B. Fungsi Pencegahan
Pencegahan diterima sebagai sesuatu yang baik dan perlu dilaksana-kan,perwujudannya yang bersifat operasional konkret belum banyak terlihat. Pelaksanaan fungsi pencegahan bagi konselor merupakan bagian dari tugas kewajibannya yang amat penting.
Layanan bimbingan berfungsi pencegahan artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Bagi konselor professional yang mi-si tugasnya dipenuhi dengan perjuangan untuk menyingkirkan berbagai masa-lah yang dapat menghambat perkembangan individu, pencegahan tidak seke-dar merupakan ide yang bagus, tetapi adalah suatu keharusan yang bersifat etis (Horner & Mc. Elhaney,1993). Kegiatan yang berfungsi pencegahan berupa program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan seba-gainya.
Upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh konselor adalah
1) Mendorong perbaikan lingkungan yang kalau diberikan akan berdampak negatif terhadap individu yang bersangkutan
2) Mendorong perbaikan kondisi diri pribadi klien
3) Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-halm yang diperlukan dan mempengaruhi perkembangan dan kehidupnya
4) Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan memberi-kan risiko yang besar dan melakukan sesuatu yang akan memberikan man-faat
5) Menggalang dukungan kelompok terhadap individu yang bersangkutan
Untuk pelayanan bimbingan dan konseling di luar “kegiatan seko-lah” dapat dilakukan konselor untuk mengubah kondisi lingkungan kerja antara karyawan dengan pimpinan,kondisi rumah tangga, hubungan antara anggota keluarga, dsb.
Kegiatan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi pencegahan disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap :
a. Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul
b. Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab timbul-nya masalah-masalah
c. Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masa-lah tersebut
d. Menyusun rencana program pencegahan
e. Pelaksanaan dan monitoring
f. Evaluasi dan laporan

C. Fungsi Pengentasan
a. Langkah-langkah pengentasan masalah
Upaya pengentasan masalah pada dasarnya dilakukan secara pero-rangan,sebab setiap masalah adalah unik.
b. Pengentasan masalah berdasarkan diagnosis
Sebagai rambu-rambu yang dapat dipergunakan untuk terselengga-ranya diagnosis pemahaman ada 3 dimensi diagnosis yaitu :
1) Diagnosis mental/psikologis
2) Diagnosis sosio-emosional
3) Diagnosis instrumental
c. Pengentasan masalah berdasarkan teori konseling
Masing-masing teori konseling itu dilengkapi dengan teori tentang kepribadian individu, perkembangan tingkah laku individu yang dianggap sebagai masalah, tujuan konseling serta proses dan teknik-teknik khusus konseling. Tujuan dari teori-teori tersebut adalah mengentaskan masalah yang diderita oleh klien dengan cara yang paling cepat, cermat dan tepat. Pelaksanaan pelayanan bimbingan dan konseling tidak hanya dalam ben-tuk perorangan saja, tetapi dapat pula dengan menggunakan bentuk-bentuk layanan konseling lainnya seperti konseling kelompok, program orientasi dan informasi serta program-program lainnya yang disusun secara khusus untuk klien.

D. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan
Fungsi pemeliharaan dan pengembangan berarti dalam layanan bim-bingan dan konseling yang diberikan dapat membantu para klien dalam me-melihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, fungsi pemeli-haraan dan pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengaturan,kegiatan dan program.
a) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam suatu kegiatan atau pro-gram bimbingan dan konseling sebenarnya terkait dengan 3 fungsi lainnya (Pemahaman, pencegahan, dan pengentasan)
b) Dalam menjalankan fungsi pemeliharaan dan pengembangan konselor ser-ing kali tidak dapat hidup sendiri melainkan perlu kerjasama dengan pi-hak-pihak lain.

BY MUGI LESTARI

Senin, 23 Januari 2012


 TIDAK TAHU BELAJAR YANG EFEKTIF

Seorang anak yang belajar kurang efektif cenderung sistem belajar akan tidak terencana (tidak teratur, tidak dapat memanfaatkan waktu dengan baik, tidak tahu yang akan dipelajari). Cara belajar yang kurang efektif akan mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh. Seorang anak yang memperoleh nilai jelek di sekolah bukan berarti anak tersebut tidak memiliki kemampuan yang dapat mendukungnya dalam belajar, bisa jadi anak mengalami underachiever (perolehan hasil prestasi tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki) karena disebabkan oleh  ketidaktahuan bagaimana cara belajar yang efektif.
Ciri-ciri pada anak yang kurang mengetahui cara belajar yang efektif, yaitu:
1.      Belajar tanpa perencanaan
Dalam hal ini belajar dilakukan tidak terorganisir dengan baik, apa yang akan dipelajari, kapan waktunya tidak direncanakan atau ditetapkan sebelumnya, tidak ada target yang akan dicapai Dapat juga dikatakan bahwa kegiatan belajar dilakukan ketika seseorang itu menginginkan untuk belajar.
2.      Belajar tanpa ada persiapan
Belajar tanpa adanya persiapan ini terkait dengan peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk belajar tidak dipersiapkan dengan baik sebelum belajar, sehingga pada saat belajar hal ini akan mengganggu proses kegiatan belajar. Misalnya pada saat belajar tidak dipersiapkan perlengkapan seperti pulpen, penggaris
3.      Tidak ada kontinuitas dalam belajar
Mempunyai arti bahwa belajar hanya pada waktu tertentu saja, tidak secara kontinyu setiap hari.
4.      Kurang konsentrasi dalam belajar
Pada saat belajar individu tidak dapat memusatkan perhatiannya pada materi pelajaran yang dipelajarinya.



Upaya Menangani


1.      Individu
Cara yang dapat dilakukan oleh individu agar belajarnya dapat lebih efektif, di antaranya:
a.       Pahami gaya belajar diri pribadi, sehingga dapat mengetahui strategi belajar yang tepat
b.      Tetapkan niat sebelum belajar
c.       Mulai membuat perencanaan, misalnya membuat jadwal belajar dan target apa yang harus dicapai setiap hari.
d.      Belajar secara rutin
e.       Percaya diri dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan
2.      Konselor
Upaya yang dapat dilakukan konselor dalam mengatasi banyaknya ketidaktahuan siswa/peserta didik mengenai belajar yang efektif, dapat dilakukan dengan cara membuat program bimbingan dan konseling baik bersifat pencegahan (preventive), penyembuhan/pengentasan (curative), maupun pemeliharaan.
Berikut contoh program yang dapat dilakukan:
a.       Program layanan yang bersifat pencegahan
Contoh: dengan diadakannya layanan informasi yang terkait dengan tema belajar efektif sehari-sehari, bimbingan kelompok dengan topic tugas belajar efektif.
b.      Program layanan yang bersifat pengentasan
Contoh: dengan diadakannya layanan konseling individu maupun konseling kelompok.
c.       Program layanan yang bersifat pemeliharaan
Contoh: dengan diadakannya layanan penguasaan konten terkait konten yang dapat diterapkan guna mendukung kegiatan belajar yang efektif, layanan penempatan/penyaluran misalnya terkait dengan penempatan dan penyaluran ke dalam kelompok belajar berdasarkan kemampan dan
kelompok campuran.
 

Rabu, 02 November 2011

mau tau apa nama korea kalian???


Hallyu Wave sdg melanda…. Hampir smuanya tentang KOREA… Mau tau namamu dalam versi Korea? Siapa tau nama kita sama ma artis2 korea.
cari tau disini :

1. Surname : Korean surname is the last number in your year of birth.

- 0: Park
- 1: Kim
- 2: Shin
- 3: Choi
- 4: Song
- 5: Kang
- 6: Han
- 7: Lee
- 8: Sung
- 9: Jung

2. Middle name : is your month of birth.

- 1: Yong
- 2: Ji
- 3: Je
- 4: Hye
- 5: Dong
- 6: Sang
- 7: Ha
- 8: Hyo
- 9: Soo
- 10: Eun
- 11: Hyun
- 12: Rae

3. First name : is your date of birth.

- 1: Hwa
- 2: Woo
- 3: Joon
- 4: Hee
- 5: Kyo
- 6: Kyung
- 7: Wook
- 8: Jin
- 9: Jae
- 10: Hoon
- 11: Ra
- 12: Bin
- 13: Sun
- 14: Ri
- 15: Soo
- 16: Rim
- 17: Ah
- 18: Ae
- 19: Neul
- 20: Mun
- 21: In
- 22: Mi
- 23: Ki
- 24: Sang
- 25: Byung
- 26: Seok
- 27: Gun
- 28: Yoo
- 29: Sup
- 3 0: Won
- 31: Sub
Jadi, apa nama Korea kalian?
kalau aku si.....Jung Yoo Rae...ehmmm lumayan keren

cerita penanam pohon


~Cerita Si Penanam Pohon~
#
#
Aku terdiam sejenak ketika memasuki pintu gerbang kota ini yang bertuliskan 'Welcome to Konoha'. Seulas senyum mengembang di bibirku. Ah, akhirnya aku kembali juga ke sini. Kota ini adalah kota kelahiranku, meskipun aku tumbuh besar di kota lain—yang selama ini kuanggap sebagai kampung halamanku. Walau demikian, kota Konoha ini selalu ada di dalam hatiku dan selalu menjadi tempat berlabuhku setelah berkelana.
Ketika aku meneruskan perjalanan, dahiku mengerut penuh keheranan.
Kenapa kota ini menjadi seperti ini?
Di sekelilingku, banyak orang yang tidak kukenal. Hm, sudah sebegitu lamanyakah aku meninggalkan kota ini sampai-sampai sudah banyak penduduk baru? Ya, pastinya begitu. Kutepuk dahiku, kutepis keherananku. Hal seperti ini sudah biasa di kota besar macam Konoha. Setiap harinya banyak penduduk baru, datang silih berganti. Datang dengan segudang pengharapan.
Para penduduk baru itu mengelompok masing-masing, bersenda gurau dan mengobrol, mengomentari pohon-pohon yang ditanam orang-orang. Sama sekali tidak memedulikan kehadiranku.
Akhirnya aku berjalan terus. Aku sedikit heran saat melihat pohon-pohon yang ditanam oleh penduduk kota ini nyaris sama semua. Sedikit sekali aku menemukan pohon yang berbeda! Anehnya, penduduk kota ini sama sekali tidak terlihat terganggu dengan kehomogenan pohon-pohon itu, bahkan mereka terus-terusan mengaguminya.
Hm, mungkin inikah trend yang sedang berlaku di sini? Apakah mereka tidak tahu, penanaman monokultur seperti ini akan mengurangi kesuburan tanah?
Ah, sudahlah. Memang susah untuk melawan arus. Lagipula, pohon-pohon homogen itu tidak semuanya buruk, kok.
Saat aku berjalan terus, kulihat ada beberapa kelompok yang saling berdebat. Kuperhatikan mereka sejenak. Tapi aku segera berpaling ketika melihat adu argumen itu mulai memanas, yang akhirnya berujung pada konfrontasi tak perlu. Kugelengkan kepalaku, kemudian segera meninggalkan tempat itu. Buang-buang waktu saja. Aku sama sekali tak mengerti mengapa kelompok-kelompok tersebut harus bertengkar begitu. Memangnya mereka tidak pernah mendengar kata toleransi?
Yah, apa boleh buat. Inilah risiko kota besar. Pasti kota ini sudah masuk ke stadium tryanopolis, di mana dekadensi moral sudah terjadi di mana-mana. Aku takkan heran kalau kala berikutnya aku kembali ke sini, kota ini sudah menjadi nekropolis.
Kulanjutkan jalanku menuju pohon-pohon yang dulu pernah kutanam di sini. Aku ingin lihat, sudah sebanyak apa buahnya. Semoga saja cukup banyak. Yah, meskipun bukan itu tujuan utamaku menanam pohon.
"Tenten!"
Aku menoleh ke arah suara itu. Raut wajahku langsung berubah bersemangat.
"Naruto!" aku melambai. Betapa senangnya aku bertemu teman lamaku di kota yang sudah nyaris menjadi asing bagiku!
"Kau pulang! Ya ampun... kau pulang!" seru Naruto senang. Dia menyalamiku dengan bersemangat.
"Bagaimana perjalananmu?" tanyanya langsung.
"Menyenangkan, tentu saja," aku tersenyum lebar. "Masih banyak kota lain di dunia ini yang perlu ditanami pohon, terutama kota-kota kecil yang terletak di pinggiran. Kadang-kadang aku menjadi orang pertama yang menanam pohon di sana, tetapi tak jarang aku menjadi tamu. Orang-orang di kota-kota seperti itu sangat ramah dan akrab, betul-betul menyenangkan. Membuatku sangat betah."
Naruto mengangguk-angguk. Dia, sama sepertiku, adalah seorang penanam pohon profesional, sebuah profesi baru yang beberapa tahun ini sangat populer di dunia, mengingat pemanasan global yang semakin merajalela.
"Selamat untukmu, kalau begitu," ujarnya tulus.
"Kau sendiri, bagaimana?"
Raut wajahnya sedikit berubah.
"Yah, kau tahu," katanya, mengangkat bahu. "Tinggal di kota besar seperti ini... sungguh melelahkan."
Aku memberinya ekspresi simpati. Naruto adalah penanam pohon yang memilih menetap di suatu kota, tepatnya kota Konoha yang ramai ini—keramaian yang disebabkan karena dulu, para penanam pohon profesional generasi pertama memulai kiprahnya dari kota ini, sebab tanah vulkanisnya sangat subur dan biasanya pohon yang ditanam di sini akan menuai banyak buah. Karena itulah kini Konoha menjadi tujuan banyak penanam pohon muda.
Aku sendiri adalah penanam pohon pengelana yang tak punya kota tetap. Aku sibuk melanglang buana ke kota-kota kecil pinggiran yang sepi, menanam pohon di sana. Namun, aku punya jadwal rutin untuk mengunjungi kota-kota tertentu.
"Bisa kubayangkan rasa capekmu itu, Naruto," kutepuk pundaknya. "Oh ya, saat ini aku hendak menengok pohon-pohon hasil tanamanku di kota ini beberapa tahun lalu. Mau menemaniku?"
"Tentu," balasnya riang. "Pohon-pohonmu berbeda dari kebanyakan pohon di sini. Buahnya pasti enak. Aku sudah bosan makan buah yang itu-itu saja."
Kini kami berjalan bersisian menuju tempat di mana aku menanam pohon-pohonku. Aku masih sedikit menggeleng-gelengkan kepalaku ketika melihat pertengkaran di sana-sini pada sepanjang perjalanan, tapi aku memilih untuk mengabaikan semua itu.
"Wah! Pohonmu berbuah!" seru Naruto girang kala kami sudah sampai. Aku sendiri tersenyum senang. Memang buahnya tidak banyak, tetapi itu sama sekali bukan masalah. Aku memang biasanya menanam pohon di bagian tanah yang kurang subur di kota ini. Kalau ada satu buah saja aku sudah senang sekali. Jujur, aku jarang berharap buahnya akan lebih dari sepuluh.
"Kau boleh memetiknya kalau mau," kataku. "Tolong ambilkan untukku juga, ya."
Naruto mengangguk, kemudian dengan sigap memanjat salah satu pohon yang kutanam. Dia kembali dengan membawa dua buah yang terlihat menggiurkan.
"Mmm... manis!" Naruto memekik kegirangan setelah menelan gigitan pertamanya. "Sudah lama sekali aku tidak makan buah seperti ini. Di Konoha, mata kita harus jeli melihat pohon-pohon langka seperti ini, saking banyaknya pepohonan yang itu-itu saja!"
Aku tergelak. Sorot mataku melembut melihat Naruto nampak begitu menikmati buahnya, memejamkan mata dengan sangat enjoy sambil bersandar di batang pohon yang kutanam.
"Sebenarnya, Naruto," aku mulai menyuarakan pikiran yang mengganjal sejak tadi, "aku sungguh heran mengapa Konoha menjadi seperti ini. Seingatku, bertahun-tahun lalu tidak begini..."
Pandangan Naruto menerawang.
"Aku juga tidak mengerti, Tenten," ujarnya pelan. "Mungkin karena perkembangan zaman. Entahlah."
Dia menggigit buahnya lagi.
"Kau tahu? Banyak penanam pohon legendaris kelahiran Konoha yang entah bagaimana rimbanya sekarang. Banyak yang pindah ke kota lain dan menetap di sana, ada juga yang memilih menjadi pengelana sepertimu dengan frekuensi kepulangan yang amat jarang. Padahal penanam-penanam seperti kalian sangat dibutuhkan di sini, sekarang," dia mendesah. "Sulit sekali tahu, bagiku dan teman-teman yang sehati dengan kita, untuk terus bertahan. Menanam pohon yang berbeda sambil terus berusaha bertahan dari banyaknya pertengkaran dan... polusi."
Keningku berkerut.
"Polusi?"
"Ya," Naruto mengangguk. Sorot matanya menunjukkan kekesalan. "Ada orang-orang aneh yang suka menambah tak nyaman suasana kota ini dengan menyebarkan sampah busuk yang amat bau dan menyakitkan mata."
"Benar-benar kekanak-kanakkan," komentarku.
"Mereka membuat kacau kehidupan kota. Banyak penduduk yang marah dan mengeluarkan kata-kata yang... yah, kau bisa bayangkan. Untungnya masih banyak yang berinisiatif untuk langsung melaporkan mereka kepada polisi."
"Parah sekali."
"Sangat," temanku itu mengiyakan. "Hal-hal semacam itulah yang semakin membuat para penanam pohon legendaris memilih pergi, mencari tempat lain yang lebih menenteramkan."
Selama beberapa saat, kami terdiam.
"Kalau begitu, Naruto," aku menoleh ke arahnya, "apa yang membuatmu bertahan menanam pohon di Konoha?"
"Oh, itu," bibirnya melengkung membentuk senyuman. "Salah seorang penanam pohon legendaris yang sangat kuhormati pernah berkata, 'Daripada kita mengungsi dari kota yang penuh polusi tanpa berbuat apa-apa, bukankah lebih baik kita menanam satu pohon di sana?'. Yah, kata-katanya tidak tepat seperti itu, yang jelas intinya begitu. Aku sangat terkesan dengan perkataannya, makanya aku bertekad untuk terus menanam pohon yang bagus di sini. Tidak masalah kalau pohonku tidak diperhatikan orang atau sedikit berbuah, yang penting aku sudah berbuat sesuatu—walau sangat amat sedikit—untuk menanam pohon yang berkualitas demi mengurangi pemanasan global. Bukankah itu tugas kita sebagai penanam pohon profesional? Lagipula... aku sangat menyukai kota Konoha. Aku ingin terus menanam pohon-pohon yang bagus di sini dan membuatnya sejuk berseri."
Dia mengakhiri "pidato"nya dengan cengirannya yang khas. Aku hanya bisa terpana.
"Hei, kau jangan salah paham, Tenten. Aku sama sekali tidak menghakimimu yang memilih mengelana atau mereka yang memilih untuk pindah. Itu hak kalian, tentu saja. Lagipula aku yakin, seorang penanam pohon profesional akan selalu menanam pohon yang menyejukkan di mana saja dia berada. Iya kan?"
Aku mengangguk. Tidak kusangka, temanku yang dulu sama sekali tidak dewasa, sekarang sudah bisa bicara seperti ini. Rasa bangga tumbuh di dadaku. Kau memang hebat, Naruto!
"Nah, sekarang ayo kita temui teman-teman lama kita. Kau bisa melihat pohon-pohon indah yang mereka tanam..." dia berdiri, lalu mengulurkan tangan padaku. Aku tersenyum, menyambut tangannya.
"Ayo!"